Menggeliatnya sektor properti tahun 2019, diyakini akan berdampak positif hingga tahun 2020 mendatang. Karenanya, peran pengembang dalam memanfaatkan momen ini harus bisa dimanfaatkan secara maksimal sehingga tidak sampai stagnan seperti yang sempat terjadi pada 2018 silam. Apa yang harus dilakukan?


PROGRAM pemerintah dengan pembangunan 1 juta rumah bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR) juga menjadi andil bangkitnya properti belakangan ini, selain juga didukung oleh harga bahan bangunan yang tergolong stabil.
Menurut Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Bali, Pande Agus Permana, meski peningkatan sektor properti dan konstruksi tahun 2019 tidak terlalu besar, tetap harus disikapi dengan bijaksana,  mengingat daya beli masyarakat memang sedang menurun. Hanya kondisi ini terbantu dengan adanya program pemerintah yang bertujuan agar masyarakatnya maju dan mandiri dengan memiliki hunian pribadi yang layak huni serta terjangkau. “Program 1 juta rumah ini harus bisa dimanfaatkan dengan tepat dan baik bagi pelaku usaha di dunia konstruksi dan property. Meski demikian, menjaga kualitas harus tetap dilakukan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Jangan memanfaatkan program ini untuk mengambil keuntungan semata. Saat ini realisasi dari program ini memang belum sepenuhnya terlaksana, masih sebatas beberapa tempat yang ditentukan, yang pastinya telah melalui studi kelayakan,” ungkapnya.

Pande Agus Premana menambahkan, dengan adanya program ini growth untuk MBR tahun 2018 ke 2019 terjadi kenaikan dengan kisaran 30 %. Untuk meningkatkan minat MBR dalam memiliki hunian, pihak pengembang harus jeli menggandeng pihak ketiga untuk bekerja sama, sehingga harga rumah bisa dikondisikan dengan cicilan yang tidak memberatkan, apalagi untuk subsidi dirasa masih sangat sulit mengingat harga tanah yang masih tergolong tinggi untuk beberapa kabupaten.

“Kalau kita baca trend yang diminati konsumen tahun 2020 pastinya adalah rumah atau hunian yang terjangkau dan berkualitas. Inilah nantinya akan menjadi tantangan bagi pengembang atau mereka yang menggeluti jasa konstruksi untuk bisa mewujudkannya. Karenanya, ke depan kita harapkan ada regulasi mengenai luasan lahan bisa dibijaksanai khususnya untuk lahan terbangun di beberapa kabupaten, sehingga harga tanah bisa ditekan. Besar harapan kami ke depan di tahun 2020 sinergi pemerintah, stakeholder terkait serta perbankan dapat duduk bersama guna merumuskan perumahan terjangkau, bersih dan bersahabat,” terang Pande Agus Permana.

Hal senada juga disampaikan Ketua IAI Bali Kadek Pranajaya. Menurutnya, perkembangan jasa konstruksi tahun 2019 masih akan berpengaruh pada 2020, yakni pembangunan akan terfokus pada rumah hunian pribadi. “Tahun 2020 kira-kira konsumen masih terpaku pada hunian pribadi. Harga murah masih tetap jadi harapan mereka untuk memiliki tempat tinggal, namun kualitas juga menjadi tuntutan. Kira-kira masyarakat akan memilih hunian dengan luas tanah 60 M2, sehingga diperkirakan harga hunian ada di kisaran Rp 750 juta hingga Rp 950 juta. Meski demikian pelaku jasa konstruksi atau pengembang harus tetap memperhatikan utilitas serta ketentuan-ketentuan yang benar dalam pembangunan agar tidak sampai di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Artinya meskipun murah semua fasilitas penting harus tetap diprioritaskan,” ungkapnya.

Sementara itu salah seorang penyedia layanan jasa konstruksi IGN Hari Pawitra menegaskan, pertengahan tahun 2019 memang menjadi angin segar bagi para kontraktor. Selain minat masyarakat untuk membangun mulai muncul juga harga beberapa komponen bahan bangunan yang sebelumnya naik mulai stabil di harga normal. Meski demikian, pihaknya tidak menampik konsumen juga masih berhati-hati dalam menentukan pilihan maupun tipe bangunan karena takut adanya kenaikan harga. “Kita berharap harga bahan bangunan khususnya untuk konstruksi bisa tetap tersedia dan stabil sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan, apalagi konsumen juga sudah mulai cerdas dalam memberikan pilihan serta penilaian terhadap kinerja para pelaku jasa konstruksi,” ungkap ownerSikut Satak Kontraktor ini.

Tantangan penyediaan hunian murah berkualitas yang menjadi harapan masyarakat ini tentunya hanya bisa terwujud apabila semua komponen yang berada di dalam pelayanan jasa konstruksi bisa bekerja dengan profrsional ditambah dengan regulasi atau aturan yang benar dan jelas. Pengembang atau kontraktor tidak hanya melihat keuntungan, sedangkan konsumen pun harus cerdas dalam menentukan pilihan sehingga nantinya tidak menyalahkan penyedia jasa. Tahun 2020 diharapkan bisa menjadi cikal bakal naiknya perekonomian masyarakat dengan didukung oleh pemerintah melalui program-programnya yang pro rakyat. *ita

BAGIKAN