Rencana Penghapusan Premium, Diprediksi Tak Berdampak Signifikan terhadap Pertanian   

Pemerintah berencana menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

TRAKTOR – Petani di Tabanan tidak terlalu tergantung pada premium. Sebab, sebagian besar alsintan dominan menggunakan BBM jenis solar.

Tabanan (bisnisbali.com) –Pemerintah berencana menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Pemerintah menyebut, premium akan dihapus sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 mengenai batasan Research Octane Number (RON).

Adapun penghapusan BBM jenis premium ini akan dilakukan pada 1 Januari 2021. Rencananya, premium akan dihapus dari wilayah Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Terkait hal tersebut Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana, Senin (16/11), mengungkapkan, dampak dari rencana penghapusan BBM jenis premium ini kemungkinan kecil pada kebutuhan konsumsi masyarakat secara umum. Begitu pula pada sektor pertanian. Pertimbangannya, selama ini penggunaan BBM pada alat dan mesin pertanian (alsintan) dominan menggunakan solar. “Selama ini alsintan seperti traktor, cultivator untuk mengolah tanah sekunder, hingga combine harvester sebagai alat pemanen padi menggunakan BBM jenis solar,” paparnya.

Menurut Wiadnyana, kalaupun ada alsintan pertanian yang menggunakan premium, kemungkinan jumlahnya tidak banyak dan kecil dampaknya pada proses pengolahan lahan hingga panen di sawah. Selain itu, jika premium dihapuskan, petani masih bisa beralih dengan menggunakan BBM jenis pertalite. Bahkan sekarang ini peralihan ke jenis BBM pertalite sudah banyak dilakukan karena untuk mendapatkan premium di Tabanan sudah cukup sulit.

“Hanya sebagian kecil saja SPBU yang masih menawarkan BBM jenis premium. Itu pun dalam jumlah yang jauh menurun dari kuota tahun lalu sehingga seringkali stok BBM premium ini malah habis,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang petani di Tabanan, I Gusti Subagia mengungkapkan, dihapuskannya BBM jenis premium kemungkinan tidak akan berdampak signifikan terhadap pengolahan lahan pertanian padi. Apalagi, selama ini sudah banyak petani beralih ke pertalite. “Penggunaan pertalite ini karena kondisi BBM jenis premium yang susah untuk didapat saat ini. Sehingga mau tidak mau, kami terpaksa beralih ke pertalite,” ujarnya.

Bercermin dari kondisi tersebut, dia menilai, jika BBM jenis premium dihapus, maka ini tidak banyak berdampak pada sektor pertanian karena sejumlah petani justru sudah banyak yang beralih menggunakan pertalite. Meski begitu dia berharap pemerintah bisa memberikan subsidi pertalite, sehingga harganya bisa terjangkau oleh petani. *man

BAGIKAN