Reformasi Total Koperasi Menuju Skala Besar 

Kementerian Koperasi dan UKM berupaya melakukan reformasi total terhadap koperasi, sehingga bagaimana ke depannya koperasi yang ada di Indonesia tidak hanya sekadar besar dalam jumlah tetapi menjadi koperasi yang berkualitas.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kementerian Koperasi dan UKM berupaya melakukan reformasi total terhadap koperasi, sehingga bagaimana ke depannya koperasi yang ada di Indonesia tidak hanya sekadar besar dalam jumlah tetapi menjadi koperasi yang berkualitas. Dengan Menkop UKM yang baru, langkah reformasi total koperasi tetap dilakukan.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra, S.E., M.M, mengatakan, Menkop yang baru sudah merancang program aksi 100 hari. “Tapi apa bentuknya kami belum tahu. Apapun bentuknya kami dari Dinas Koperasi pasti dukung. Saya kira beliau melanjutkan reformasi total koperasi yang sudah berjalan selama lima tahun terakhir,” katanya.

Reformasi total koperasi di antaranya dilakukan rehabilitasi koperasi sehingga aktivasi koperasi lebih bagus lagi. Koperasi yang tidak aktif dilakukan pembenahan, direhabilitasi, kalau tidak bisa,  ya dibubarkan. “Sejak 2014 hingga tahun 2018, pihak Kementerian Koperasi dan UKM bahkan telah membubarkan sedikitnya 50.000 koperasi yang tidak aktif. Dari 209 ribu koperasi, dilakukan pembubaran terhadap koperasi yang tidak bagus dan tidak aktif hingga saat ini tersisa 124 ribu koperasi,” ungkapnya.

Meski demikian, kata I Gede Indra Dewa Putra, semangatnya bukan membubarkan tetapi menata, membuat database sehingga koperasi yang ada menjadi berkualitas dan berkembang menjadi skala besar. “Untuk merampungkan data base koperasi, proses pendataan by name by address koperasi maupun UKM terus dilanjutkan. Kemudian koperasi-koperasi yang sudah tumbuh berkembang diperkuat dengan tetap melakukan pendampingan,  perkuat dan fasilitasi sehingga menjadi koperasi skala besar. “Dengan berkembang menjadi koperasi skala besar, otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya anggota,” katanya.

Ia mengatakan, untuk di Bali, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali menargetkan koperasi makin berperan di berbagai sektor ekonomi tidak saja di sektor pembiayaan pada anggota tapi juga berperan di sektor produksi/sektor riil. “Kami ingin ke depannya koperasi yang tumbuh adalah koperasi sektor produksi, usaha produksi, usaha pemasaran, usaha jasa konsumen. Di sektor-sektor riil, untuk itu kami sepakat untuk membatasi pembentukan koperasi simpan pinjam, untuk ditiadakan tidak mungkin tapi bila ada masyarakat datang ingin membentuk koperasi maka kami arahkan untuk membentuk koperasi produksi, tidak lagi koperasi simpan pinjam karena jumlah koperasi  4.953 itu cukup banyak untuk koperasi simpan pinjam, koperasi sektor riil sangat sedikit,” katanya. *pur

BAGIKAN