”Recovery” Pariwisata Bali Ikuti Rambu Pemerintah Pusat

VIRUS corona tidak hanya mewabah di kawasan Tiongkok. Virus corona sudah muncul di Jepang, Korea Selatan, Amerika, Iran, Singapura, Malaysia,  Italia dan beberapa negara di Eropa. 

PUSAT - Recovery pariwisata, Bali wajib ikuti kebijakan pusat.

Virus corona yang awalnya berkembang di Tiongkok kini meluas ke beberapa negara termasuk di Korea Selatan. Turunnya sektor pariwisata Bali diakibatkan ketakutan wisman berlibur menuntut adanya recovery Bali sesuai rambu-rambu yang dicanangkan pemerintah pusat. Bagaimana langkah Bali?

VIRUS corona tidak hanya mewabah di kawasan Tiongkok. Virus corona sudah muncul di Jepang, Korea Selatan, Amerika, Iran, Singapura, Malaysia,  Italia dan beberapa negara di Eropa.
Dewan Pembina DPD Asita Bali, Bagus Sudibya mengatakan, negara di luar Tiongkok yang baru terjangkit virus corona, perlu mewaspadai masa berkembangnya virus corona tersebut. Ini dilakukan dengan penyiapan fasilitas guna menangani pasien yang positif terjangkit corona.

Sampai saat ini, Indonesia belum terjangkit virus corona sehingga itu akan menjadi kekuatan besar bagi pariwisata Bali dan pariwisata Indonesia untuk mempercepat recovery sektor pariwisata.
Konsul Kehormatan Afrika Selatan untuk Bali ini memaparkan, akibat merebaknya virus corona di dunia banyak negara yang mengisolasi warganya untuk tidak bepergian ke luar negeri. Di sisi lain banyak wisman yang takut berlibur terutama ke kawasan atau negara yang sudah terjangkit virus corona.

Indonesia sudah melakukan langkah penyetopan penerbangan ke Tiongkok dan sebaliknya. Di bagian lain, Singapura juga melakukan penyetopan penerbangan ke Jepang, Amerika dan lainnya berkaitan antisipasi virus corona.
Selama ini penerbangan Singapura banyak berkontribusi mengantarkan wisatawan dari negara pasar ke Bali. Ketika penerbangan Singapura menutup sementara rute penerbangan ke negara pasar pariwisata Bali, praktis wisman yang berlibur ke Bali akam menurun.

Menurutnya, pariwisata Bali tentu berharap ada substitusi dengan penerbangan Emirat, dan penerbangan lain yang selama ini masih memberikan layanan penerbangan  langsung ke Bali. Penerbangan langsung dari Australia ke Bali juga diharapkan optimal mengantarkan wisatawan Australia ke Bali. Penerbangan asing atau penerbangan Indonesia yang selama ini masih melayani rute negara pasar ke Bali  bisa meningkatkan frekuensi penerbangan dan penambahan kapasitas tempat duduk.

Bagus Sudibya meyakinkan belum ada warga di Indonesia yang  terjangkit corona akan memudahkan Bali melakukan recovery pariwisata. Sebagai bagian langkah recovery, Indonesia mesti meluruskan berita hoax terkait Indonesia belum bisa mendeteksi orang yang terdeteksi  positif corona.

Indonesia mesti mengundang wartawan dunia guna menikmati fasilitas gratis  melihat kondisi pariwisata terkini. Tulisan wartawan dunia terkait Bali dan Indonesia masih terbebas dari virus corona akan memberikan kenyamanan wisman yang berlibur ke Bali.
Bagus Sudibya menegaskan langkah recovery ini merupakan bagian kampanyekan Bali bebas dari virus corona. Setelah di berita Bali aman dari virus corona, selanjutnya pemerintah dan pelaku pariwisata Bali mesti mengundang gratis tour operator dunia ke Bali. Ini untuk memastikan Bali aman dari virus corona sehingga bisa meyakinkan wisman dapat berlibur ke Bali dengan aman dan nyaman dari ketakutan virus corona.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa membenarkan, merebaknya virus corona di Tiongkok telah berdampak signifikan kunjungan wisman ke Bali. Recovery pariwisata Bali wajib mengikuti kebijakan pemerintah pusat.
Berkenaan dengan dampak negatif yang ditimbulkan akibat merebaknya virus corona tersebut, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia termasuk ke Bali menunjukkan angka penurunan. Ini telah disikapi pemerintah pusat dengan mengeluarkan kebijakan yang sangat penting.

Ia menjelaskan, kebijakan pemerintah pusat secara mendasar membantu pemulihan pariwisata dan perekonomian. Kebijakan pemerintah terkait recovery pariwisata Indonesia tentu akan berdampak tatanan pariwisata Bali dalam jangka pendek.
Kebijakan pemerintah pusat pertama memberikan tambahan anggaran Rp 298,5 miliar untuk insentif airline dan travel agent dalam rangka mendatangkan wisatawan asing ke dalam negeri.
Untuk wisatawan dalam negeri diberikan
Rp 443,39 miliar insentif dalam bentuk diskon 30 persen potongan harga untuk 25 persen seat 
per pesawat yang menuju ke sepuluh destinasi wisata.
Astawa menekankan, sepuluh destinasi pariwisata yang tersebar di 33 kabupaten/kota tidak dipungut pajak hotel dan restoran (sebesar 10%) selama 6(enam) bulan. Sepuluh destinasi pariwisata tersebut yaitu Danau Toba, Yogyakarta, Malang, Manado, Bali,
Mandalika, Labuan Bajo, Bangka Belitung, Batam, dan Bintan.
Sebagai gantinya, pemerintah pusat akan memberikan hibah Rp3,3 triliun kepada sepuluh destinasi pariwisata. Dalam APBN
juga tersedia anggaran dana alokasi khusus (DAK) fisik pariwisata Rp 147 miliar yang akan dikonversi menjadi hibah ke daerah-daerah untuk memacu pariwisatanya.

Putu Astawa menilai, pemerintah daerah tidak boleh memungut PHR selama 6 bulan bisa menjadi kebijakan yang sangat berat bagi pariwisata Bali. Ini terutama dirasakan  Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar yang APBD-nya banyak ditopang pajak hotel dàn restoran (PHR). *kup

BAGIKAN