Pulihkan UMKM, BI Serukan  ’’Ngiring Angge” Produk Bali

Terhentinya aktivitas pariwisata selama triwulan II tahun 2020 serta adanya pembatasan kegiatan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II mengalami kontraksi yang lebih dalam, yakni sebesar -10,98 persen (yoy).

Denpasar (bisnisbali.com) –Terhentinya aktivitas pariwisata selama triwulan II tahun 2020 serta adanya pembatasan kegiatan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II mengalami kontraksi yang lebih dalam, yakni sebesar -10,98 persen (yoy). Kondisi ini berimbas pula pada usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) di Bali. Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho menyerukan agar program-program pengembangan produk lokal terus dikembangkan, seperti mendorong lebih banyak petani tradisional dan UMKM terhubung dengan marketplace dan teknologi digital.

Selain itu, KPw BI Bali juga mendorong peningkatan bansos pangan menggunakan produk lokal. Mendorong lebih banyak penggunaan produk lokal di industri akomodasi makanan dan minuman. Termasuk, mendorong kerja sama antardaerah serta mendorong internalisasi gerakan cinta produk lokal bagi masyarakat Bali. “Intinya, ngiring angge produk Bali. UMKM pulih, Bali bangkit,” serunya.

Ia menegaskan, bila semua masyarakat menggunakan produk Bali, maka UMKM di daerah ini bisa akan kembali pulih dan bangkit. UMKM yang bangkit maka sektor perekonomian akan tumbuh. Sebab, tidak dipungkiri pembatasan aktivitas ekonomi berdampak terhadap semakin dalamnya pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Begitu juga dengan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2020 terkontraksi sebesar 5,32 persen (yoy) dari pertumbuhan triwulan I sebesar 2,97 persen (yoy).

Termasuk di Pulau Dewata. Pada Agustus 2020, Bali juga kembali mengalami deflasi. Penurunan harga sebagian besar disebabkan oleh berlanjutnya penurunan harga pada komoditas daging ras, angkutan udara, sekolah dasar, bawang merah, dan pisang. Menghadapi fenomena tersebut, bank sentral bersinergi dengan pemerintah provinsi Bali, Dekranasda Bali, dan Bank BPD Bali kembali menggelar pasar gotong royong. “Selain untuk menjaga stabilitas harga menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, pasar gotong royong ini juga bertujuan untuk meningkatkan penyerapan produk UMKM lokal,” paparnya.

Hal ini sejalan dengan instruksi Gubernur melalui Surat Edaran Nomor 15036 tahun 2020 bagi instansi vertikal maupun lembaga terkait, untuk dapat menyediakan tempat bagi UMKM khususnya yang bergerak di bidang komoditi pangan hingga kerajinan. “Diharapkan dengan adanya kegiatan yang dilaksanakan secara rutin, aktivitas ekonomi baik penjualan maupun konsumsi masyarakat dapat terus berjalan, sehingga kesejahteraan akan tetap terjaga,” imbuhnya.

Mengingat kegiatan dilaksanakan di masa pandemi Covid-19, kegiatan tetap mengutamakan protokol kesehatan. Seluruh penjual menggunakan masker dan face shield. Transaksi jual beli dilakukan secara non tunai dengan menggunakan QRIS (Quick Response Indonesian Standard). Dengan QRIS, memudahkan masyarakat untuk tetap dapat bertransaksi maupun berdonasi secara aman, cepat, dan efisien terutama di tengah pandemi Covid-19. “Selain itu, QRIS dapat digunakan untuk mendorong digitalisasi UMKM,” jelas Trisno.*dik

BAGIKAN