Pulihkan Sektor Perdagangan, Kesulitan Eksportir akibat Covid-19 harus bisa Diatasi

Pandemi covid-19 secara tidak langsung berpengaruh pada sektor perdagangan di daerah ini.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pandemi covid-19 secara tidak langsung berpengaruh pada sektor perdagangan di daerah ini. Salah satunya berpengaruh pada target ekspor ke beberapa negara tujuan akibat keterbatasan logistik atau tidak ada adanya penerbangan.

Untuk itu diperlukan sinergi berbagai pihak antara pelaku usaha, pemerintah dan stakeholder lainnya untuk mengatasi kesulitan eksportir akibat covid-19 sekaligus dapat segera bertindak mengisi peluang setelah pandemi berakhir.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, I Wayan Jarta di sela-sela Diskusi Merah Putih dengan tema Peluang Sektor Perdagangan di Tengah Pandemi Covid-19 di Warung 63, Jalan Veteran mengatakan, berbicara perdagangan ada tiga yaitu level lokal, antarpulau dan internasional. Level lokal lebih banyak di sektor pangan kebutuhan masyarakat bergerak. Begitu pula perdagangan antarpulau yang boleh masuk dan keluar saat covid fokus pada pangan.

Sementara luar negeri, kini ada pembatasan keluar negeri sehingga tidak bisa ekspor. Ada upaya jika transportasi udara susah bisa melalui darat.

“Pasar ekspor yang bisa digarap yaitu manggis ke Tiongkok, ikan tuna segar maupun beku ke Jepang dan cabai juga ekspor ke Jepang,” katanya.

Prospek manggis dengan sistem musiman sekali pengiriman memiliki potensi ekspor 9.000 ton melalui Bali. Sementara dari Bali baru bisa mengirim 4.500 ton, sisanya dari provinsi lainnya yang melalui pintu Bali. Saat covid ini baru bisa mengirim manggis 10 -15 ton per hari. Untuk ikan tuna ke Jepang 10 ton dan cabai 5-7 ton.

Ia pun tidak memungkiri selama pandemi corona ini terdapat keluhan dan kesulitan yang pelaku usaha maupun eksportir. Oleh karenanya, pihaknya telah mencoba memfasilitasi mengingat ini semua berkaitan dengan bisnis.

“Contoh nyata ekspor manggis ketika penerbangan ke Tiongkok tidak ada. Eksportir kemudian mengirimkan melalui laut dengan risiko seperti kualitas akan berkurang akibat waktu pengiriman yang lama, termasuk cost maupun maintenance akan tinggi,” katanya.

Terkait masalah itu, diakui, pemerintah dalam hal ini Disperindag telah mencoba mengundang berbagai pihak seperti satu di antaranya maskapai Garuda dan bertemu dengan CEO yang ada di Bali. Diharapkan, dari pertemuan agar produk bisa terkirim melalui udara, terutama produk segar.

“Sudah bertemu dan konsep ini bisa berjalan dengan konsep gotong royong. Artinya satu pesawat harus dicarter,” ujarnya.

Yang namanya carter, kata dia, isi tidak isi tetap membayar sehingga harus memaksimalkan isinya. Pesawat Garuda, bagian kabin bawah bisa diisi manggis segar dan di atasnya (tempat penumpang) ternyata bisa diisi juga. ”Itu yang akan dioptimalkan. Tanpa adanya penumpang biaya akan tinggi,” imbuhnya.

Pihaknya juga telah mengundang Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) untuk mengetahui  peluang-peluang produk apa yang bisa dikirimkan ke negara tujuan dan bisa digabungkan menjadi satu dengan komoditas lainnya, kemudian baru mencarter pesawat. Carteran pesawat tersebut, menurutnya, juga harus dipikirkan saat baliknya karena diharapkan terisi pula ketika kembali.

“Importir ini juga perlu dihubungi ada tidak barang-barang yang perlu diimpor dari Tiongkok sehingga pesawat bisa terisi,” ucapnya.

Ia pun mempertegas ini baru tahap mempertemukan. Ia mempersilakan cara ini jalan terlebih dahulu, apabila ada permasalahan maka baru revisi. Negara tidak bisa hadir mengingat ini sistem business to business, tidak gampang pemerintah masuk. Namun, jika ada kebijakan-kebijakan yang bisa dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan pusat, kenapa tidak?

“Konteksnya masih tahapan rintisan mencoba memfasilitasi, semoga bisa segera ada hasilnya. Bila ekspor ke dan dari Tiongkok ini terisi, optimis bisa teratasi,” katanya.

Ia pun menegaskan, sebenarnya pelaku usaha ekportir tidak berpikir mencari keuntungan. Mereka hanya berharap bagaimana pelanggan di sana tidak hilang. Walaupun tidak ada keuntungan atau sekadar BEP (pakpok), minimal mempunyai kepercayaan pelanggan produk yang dipesan masih bisa terpenuhi dan sampai ke tujuan, sehingga pasar di Tiongkok tidak diambil negara lain.

“Kepercayaan pasar ini yang penting dijaga. Pelaku usaha berpikiran bagaimana manggis bisa terjual, petani dapat hasil, eksportir tidak kehilangan pasar,” tegasnya.

Hal sama dikatakan Ketua Kadin Bali, I Made Ariandi. Kata dia, perlu ada sinergi yang perlu dilakukan agar permasalahan ekspor bisa teratasi. Kadin Bali akan menyurati Kadin Pusat agar bisa menyampaikan ke Dirut Garuda mengingat ini bukan perdagangan murni. Ini pun ke depannya menjadi peluang untuk memikirkan memiliki pesawat kargo khusus karena pasarnya ada. *dik

BAGIKAN