Pulihkan Ekonomi Bali, Saatnya Kembangkan Pertanian dan Perikanan

Perekonomian Bali yang didominasi pariwisata masih akan terdampak cukup lama akibat pandemi Covid-19.

UPAYA PEMULIHAN - Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) saat bertemu Gubernur Bali Wayan Koster mendiskusikan upaya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) – Perekonomian Bali yang didominasi pariwisata masih akan terdampak cukup lama akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, diperlukan berbagai upaya agar dapat mendorong sektor ekonomi lain seperti perikanan dan pertanian menjadi alternatif pemulihan ekonomi di Bali.

“Kami ingin ekonomi Bali bertahan seraya menunggu sektor pariwisata pulih sejalan dengan meredanya Covid-19 dengan memperbesar porsi sektor perikanan dan pertanian. Kita juga harapkan wisatawan domestik mulai kembali memenuhi Bali,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Menurutya, perlu berbagai upaya pemulihan ekonomi daerah Bali dari dampak pandemi Covid-19. Oleh karenanya, OJK menawarkan apa yang bisa dibantu dan didukung agar ekonomi di Bali cepat bangkit. Salah satunya dengan melihat langsung kondisi perekonomian daerah dan mendiskusikan program-program pemulihan ekonomi yang bisa dilakukan OJK bersama pemda dan Industri Jasa Keuangan.

Lebih lanjut dijelaskannya,  secara nasional kebijakan restrukturisasi kredit yang dikeluarkan OJK pada Maret lalu telah berhasil menjaga stabilitas sektor jasa keuangan. Hingga 5 Oktober 2020,  realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan mencapai Rp 914,65 triliun untuk 7,53 juta debitur yang terdiri atas 5,88 juta debitur UMKM senilai Rp 361,98 triliun dan 1,65 juta debitur non-UMKM senilai Rp 552,69 triliun.

Sementara terkait situmulus hingga 21 Oktober 2020 sudah mencapai Rp 28,54 triliun untuk 184.002 debitur yang terdiri atas debitur UMKM sebanyak 83.399 dengan nilai Rp 16,68 triliun, debitur KUR yang mendapatkan restrukturisasi 78.076 debitur dengan nilai Rp 3,36 triliun dan debitur perusahaan pembiayaan yang mendapatkan restrukturisasi sebanyak 98.828 kontrak dengan nilai Rp 6,39 triliun.

Di tempat yang sama, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan perekonomian Bali membutuhkan bantuan agar para pelaku usaha pariwisata dan usaha dukungan pariwisata tetap bertahan sambil menunggu hilangnya pandemi Covid-19 yang menurunkan jumlah wisatawan asing. “Kami perkirakan sektor pariwisata baru pulih tahun  2022 atau 2023, sehingga dibutuhkan bantuan semacam pinjaman lunak dari pemerintah untuk membantu mereka agar tidak bangkrut atau melakukan PHK,” katanya.

Selain itu, untuk sektor ekonomi lain seperti perikanan dan pertanian, Pemrov Bali sudah mendorong UMKM dan koperasi untuk melakukan ekspor langsung ke berbagai negara. Wayan Koster menjelaskan, OJK selama ini sangat kooperatif dalam mendukung berbagai program dan kebijakan Pemprov Bali termasuk dalam menerapkan kebijakan stimulus ekonomi dari OJK dan pemerintah. *dik

BAGIKAN