Proyek Gedung MDA Tabanan Mulai Digarap, Gubernur Koster Tegaskan Desa Adat Perlu Diperkuat

Proses pembangunan gedung Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Tabanan mulai dilakukan.

MDA - Gubernur Bali Wayan Koster meletakkan batu pertama pembangunan gedung MDA Kabupaten Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Proses pembangunan gedung Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Tabanan mulai dilakukan. Proses pembangunan yang berlokasi di kawasan Museum Subak, Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi oleh Wakil Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya, Senin (7/9) kemarin.

Usai peletakan batu pertama dilanjutkan dengan seremonial pembangunan gedung MDA Kabupaten Tabanan di Gedung Kesenian I Ketut Maria, Tabanan. Gubernur Wayan Koster di hadapan jajaran MDA Tabanan, Bendesa Adat se-Kabupaten Tabanan mengungkapkan, proyek gedung MDA Kabupaten Tabanan ini merupakan tahapan pembangunan setelah diawali pembangunan MDA Provinsi Bali, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Karangasem, dan MDA Kota Denpasar.

Rencananya, pada 10 September hal sama akan di lakukan untuk di Kabupaten Bangli, dan lanjut Kabupaten Buleleng. “Lanjut kemudian pembangungan MDA di dua kabupaten, yakni Kabupaten Badung dan Kabupaten Klungkung akan menyusul nanti,” tuturnya.

Koster yang sebelumnya juga meletakkan batu pertama pembangunan bale wantilan Desa Adat Tajen, Penebel, mengatakan, secara umum pembangunan MDA dengan alokasi bantuan dari CSR Rp 3,3 miliar ini merupakan komitmen pihaknya untuk secara utuh membangun desa adat di Bali dengan nilai-nilai adat istiadat, dimana di dalamnya ada pelestarian seni, tradisi, budaya dan kearifan lokal. Itu dimulai dengan pembentukan Perda Nomor 4 tahun 2019 tentang desa adat, kemudian diberikan bantuan anggaran Rp 300 juta per desa adat dan ditambah lagi anggaran Rp 50 juta per desa adat di perubahan anggaran pada tahun ini. “Selain itu juga sudah dibuatkan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) yang merupakan satu-satunya di Indonesia saat ini,” ujarnya.

Jika pembangunan gedung MDA di kabupaten/kota di Bali telah tuntas, maka itu akan jadi upaya dalam membangun adat istiadat di Bali melalui desa adat dengan konsep yang riil. Sekaligus, ini sebagai penopang tatanan kehidupan di Bali agar benar-benar dijalankan dengan adat-istriadat, seni, tradisi yang ada.

Membangun tatanan kehidupan masyarakat Bali untuk jangka panjang dibutuhkan peran desa adat yang kokoh, begitu juga cara bergeraknya hingga konsep yang juga harus kokoh. Maka desa adat ini harus diperkuat agar bisa menjalankan fungsi dengan baik, membentengi dari pengaruh budaya luar. “Jika desa adat di Bali ini kuat, maka itu akan menjadi daya dorong bagi potensi pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua MDA Tabanan I Wayan Tontra mengatakan, sebagai tahap awal gedung MDA dibangun dua lantai di lahan milik Pemprov Bali dengan luas 10 are dan alokasi dana Rp 3,3 miliar. Nantinya, gedung MDA yang juga akan difungsikan sebagai gedung PHDI ini akan dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas diantaranya, pelatihan serati, calon pemangku dan calon sulinggih.

“Rencananya nanti dari luasan 10 are ini akan ditambah lagi 10 are dengan fasilitas tambahan. Di antaranya, berupa wantilan dan taman bermain anak-anak,” tandasnya.*man

BAGIKAN