Prokes dan WFB  BisaTahan Laju Kontraksi Ekonomi

Kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19 menjadi faktor pendukung meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19 menjadi faktor pendukung meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Upaya penanganan pemulihan ekonomi dengan wajib menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat serta pelaksanaan vaksinasi memberi andil untuk menahan laju kontraksi ekonomi di daerah ini.

”Relatif membaiknya penanganan pandemi setidaknya dilihat dari kasus aktif Covid-19 di daerah ini menjadi pendukung perbaikan ekonomi,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Trisno Nugroho di Denpasar, Rabu (2/6) kemarin.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tentunya kebijakan prokes harus didukung semua pihak. Oleh karenanya ia mengajak menerapkan prokes dengan meningkatkan kepatuhan pada 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Selanjutnya meningkatkan cakupan 3T (testing, tracing dan treatment) dan mempercepat peningkatan cakupan vaksinasi Covid-19.

Dengan menerapkan prokes serta kesiapan pihak pariwisata dan hotel di Bali melalui sertifikasi Clean, Health, Safety, Environement (CHSE) dan vaksinasi karyawan, maka peluang skema work from Bali (WFB) bisa dilakukan. WFB minimal dapat menahan laju kontraksi perekonomian Bali melalui akselerasi pariwisata domestik berbasis MICE. Melalui program ini, tingkat penghunian kamar hotel (TPKH) akan mengalami peningkatan.

“Di samping itu, multipliernya terhadap lapangan usaha lain baik di sektor pariwisata maupun sektor pendukung pariwisata cukup besar. UMKM, transportasi, event organizer, destinasi wisata, suvenir dan sektor pendukung pariwisata akan ikut terdorong aktivitasnya,” paparnya.

Pemerintah telah merancang program work from Bali dan pernah dilakukan tahun 2002 yang memberikan manfaat terhadap perekonomian lokal. ‘’Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa work from Bali merupakan salah satu quality tourism yang juga menjadi target reorientasi pariwisata Bali pascapandemi,” jelas Trisno Nugroho.

Oleh karenanya semua harus bersinergi dan berkolaborasi untuk menyukseskan program ini. Dengan demikian kepercayaan terhadap Bali akan meningkat sehingga pemulihan akan berjalan lebih cepat.

Pihaknya optimis terkait pembukaan work from Bali mengingat Sanur ditetapkan sebagai wilayah zona hijau oleh pemerintah. Vaksinasi 100 persen untuk semua pelaku usaha pariwisata di wilayah Sanur ditambah akomodasi dan restoran telah memiliki sertifikat CHSE. “Angka penyebaran Covid-19 terendah sejak dilaksanakan vaksinasi di seluruh Sanur. Aplikasi tracking dan tracking ‘peduli lindungi’ oleh Kementerian Kesehatan RI pada industri usaha pariwisata di Sanur. Sistem pengawasan wilayah terintegrasi oleh Satgas Covid dan Yayasan Pembangunan Sanur,” imbuhnya.

Menurutnya, 10 besar rekomendasi hotel di Sanur dengan high standard CHSE meliputi Hyatt Regency Bali, Andaz, Inna Grand Bali Beach, Prama, Maya Sanur, Swissbel Watujimbar, Mercure, Puri Santrian, Prima Plaza dan Tandjung Sari. *dik

BAGIKAN