Program WFB Mulai Dipromosikan ke Lembaga Pusat 

Program Work From Bali (WFB) diharapkan mampu membantu pemulihan pariwisata Bali.

PROMOSI - Kepala Dinas Pariwisata  bersama tim saat mempromosikan program WFB ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Denpasar (bisnisbali.com)-Program Work From Bali (WFB) diharapkan mampu membantu pemulihan pariwisata Bali. Keberhasilan program ini juga diharapan mampu memberikan kepercayaan kepada wisatawan mancanegara untuk datang ke Bali. Untuk merealisasikan program yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarvest) Republik Indonesia ini, promosi mulai dilakukan yang menyasar, kementerian, BUMN serta swasta di Jakarta.

Promosi dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang menggandeng pelaku industry pariwisata yang tergabung dalam Bali MICE Forum dengan menggelar roadshow di Jakarta pada 2-4 Juni lalu. Beberapa kementerian yang dikunjungi yaitu, lembaga dan kementerian di bawah Kemenkomarvest, diantaranya Kementerian Kelautan dan Periknanan, Kementerian Investasi dan Penanaman Modal, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Lingkungan Hidup. Roadshow juga dilakukan ke beberapa kementerian lain seperti Kementerian Keuangan, beberapa BUMN seperti PT Taspen, Pertamina, Telkom dan Pegadaian serta Kantor Bank Indonesia. Selain ke lembaga pemerintah roadshow juga menyasar peerusahaan swasta khususnya e-comerse yaitu, Sophee, Bukalapak, Tokopedia, Linkaja, DANA serta OPPO.

Berdasarkan rilis yang diterima di Denpasar, Sabtu (5/6), Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa mengatakan, roadshow ini dilakukan dalam rangka memberikan pemahaman agar para Kementerian maupun lembaga pemerintah maupun swasta mau berkunjung serta melaksanakan kegiatan maupun bekerja dari Bali. Dengan banyaknya orang yang melaksanakan kegiatan dari Bali, menurutnya, akan berpengaruh terhadap okupansi akomodasi pariwisata dan adanya transaksi di berbagai sektor khususnya di Pariwisata yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali.

Seperti diketahui saat ini di kwartal pertama pertumbuhan ekonomi Bali terkontraksi 9,8 persen. “Itu artinya tidak ada pergerakan ekonomi di Bali bahkan minus, maka dari itu kita harus memperbanyak demand bagi akomodasi, transportasi maupun UMKM yang mendukung pariwisata Bali,” jelasnya.

Selain itu, program WFB ini juga sebagai trial (uji coba) terhadap segala usaha yang telah dilakukan untuk membangkitkan pariwisata Bali. “Ini adalah bagian dari  3T yang kita gagas selama ini yaitu Trus (membangun kepercayaan), Trial dan Traveling (perjalanan), tentunya dengan tetap disipkin melaksanakan protokol kesehatan. Jika Program ini berhasil maka hal ini juga akan menjadi media promosi yang akan meningkatkan Trust bagi wisatawan asing untuk datang ke Bali,” tegasnya.

Dari hasil kunjungannya ke beberapa lembaga tersebut, Astawa mengaku, hampir semua lembaga menyatakan sangat mendukung program ini. Akan tetapi masing-masing lembaga akan mencari format yang tepat sehingga program ini dapat mencapai sasaran dan tidak melanggar perangturan dan perundang-undangan yang ada. *wid

BAGIKAN