Prof. Dr. Nyoman Suparta, Tekan NPL  

PADA 2019 pariwisata Bali dihadapkan perlambatan ekonomi global, sehingga berimbas pada semua sektor ekonomi termasuk perbankan.

PADA 2019 pariwisata Bali dihadapkan perlambatan ekonomi global, sehingga berimbas pada semua sektor ekonomi termasuk perbankan.

Komisaris BPR Partha, Prof. Dr. Nyoman Suparta mengatakan, dalam kondisi yang sulit BPR harus tertantang menekan angka kredit bermasalah (NPL) dan mengoptimalkan penyaluran kredit.

Ia mengungkapkan, di tengah kondisi ekonomi yang melambat sektor perbankan khususnya bank perkreditan rakyat (BPR) harus fokus pada penanganan kredit bermasalah (NPL). Di samping menekan NPL, di sisi lain harus mengoptimalkan penyaluran dana idle.

Menurut Prof. Suparta, pada 2019 pengurus BPR dipusingkan dengan NPL tinggi. Hal ini merupakan kondisi wajar ekonomi melambat debitur BPR mengalami penurunan kemampuan membayar angsuran kredit.

Ia melihat BPR harus menyelesaikan pekerjaan rumah khususnya NPL yang masih tinggi. NPL ini bisa diturunkan ketika SDM BPR mampu membina debitur yang bermasalah.

NPL terjadi akibat debitur tidak mampu lagi membayar utangnya. Langkah BPR adalah memampukan diri untuk menagih angsuran kredit dari debitur.

Menurut pria murah senyum ini, SDM BPR tentunya memiliki seni yang berbeda untuk menagih angsuran kredit yang belum dibayarkan debitur. “Melalui pendekatan pribadi, komunikasi, kredit debitur yang bermasalah diharapkan menjadi lancar,” jelasnya.

Dana idle harus dioptimalkan untuk disalurkan dalam bentuk kredit. Menghadapi dana idle sebetulnya bisa diaktifkan dengan menjual dana dengan bunga kredit lebih murah.

Prof. Suparta menambahkan, BPR masih mampu mengaktifkan debitur yang selama ini loyal terhadap BPR. Alternatif lain, BPR bisa menempatkan dana idle di bank lain asalkan masih mampu meng-cover bunga dana masyarakat yang telah dihimpun BPR. *kup

BAGIKAN