Produktif di Tengah Covid, Bali Potensial Kembangkan Sektor Primer dan Sekunder

Pandemi covid-19 berpengaruh kepada sektor pariwisata di Bali dan berimbas pada perekonomian di daerah ini.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pandemi covid-19 berpengaruh kepada sektor pariwisata di Bali dan berimbas pada perekonomian di daerah ini. Kendati demikian, Bali memiliki potensi untuk bangkit dengan mengembangkan sektor primer dan sekunder.
Praktisi ekonomi Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. di Renon, Selasa (30/6)  mengatakan, ada tiga sektor ekonomi yaitu primer, sekunder dan tersier. Sektor skunder di Bali tidak mungkin dikembangkan karena daerah ini tidak memiliki bahan baku dan industri besar.

“Maka yang bisa dioptimalkan di Bali adalam dua sektor yaitu primer dan tersier,” katanya.
Sektor primer yaitu pertanian. Menurutnya semua lahan tidur dan kosong, apakah itu di kota dan di desa itu perlu diisi dan dimanfaatkan, tentunya dengan difasilitasi oleh pemerintah daerah. Jika itu lahan kosong milik pribadi, kata dia, sebaiknya untuk tanaman jangka pendek seperti jagung, kacang, tomat, cabai sehingga tidak ada lahan mangkrak dan kebutuhan jangka pendek terpenuhi. Ketika nantinya akan digunakan oleh pemilik, maka bisa dikembalikan dan tidak ada yang dirugikan.

“Untuk mendukung tersebut, pemerintah tentu perlu memfasilitasi bibit seperti jagung, bawang merah, bawang putih, jahe dan rempah-rempah lainnya. Begitupula dari sisi buah-buahan pilih yang jangka pendek berbuah dalam waktu 6 bulan seperti pisang maupun pepaya,” ujarnya.
Sementara lahan-lahan kosong milik pribadi yang produktif misalnya di desa-desa itu juga dianjurkan ditanami. Sebab sktor pariwisata untuk kembali relatif membutuhkan waktu. “Karenanya di sela-sela menunggu pariwisata kembali mari kita bertani. Harapannya masyarakat bisa kembali produktif tidak selalu berpikir covid-19,” imbuhnya.

Selanjutnya sektor kedua yang potensial dikembangkan adalah di sektor tersier yaitu usaha-usaha perdagangan dan jasa yang belum digali. Usaha perdagangan contohnya menjual kebutuhan sehari-hari seperti minyak asli Bali (tandusan), jaja Bali, tipat cantok, canang termasuk membuat hasil olahan dari kebun. Itu dalam rangka menyalurkan pasar yang dihasilkan dari hasil perkebunan.
Untuk produk jasa contohnya tukang cukur, laundry, jasa perbaikan taman, perbaikan elketronik yang tetap menggunakan protap kesehatan. “Intinya kami mendukung apapun yang dilakukan masyarakjat asal produktif dan apapun pemerintah untuk menurunkan covid-19,” tegasnya. *dik

BAGIKAN