Produksi Rendah, Petani Cabai Nikmati Lonjakan Harga

Pasokan cabai merah kecil atau cabai rawit menurun. Hal ini disebabkan turunnya pasokan dari Pulau Jawa dan terganggunya produksi di tingkat lokal Bali.

CABAI – Petani cabai sedang merawat tanamannya.

Tabanan (bisnisbali.com) –Pasokan cabai merah kecil atau cabai rawit menurun. Hal ini disebabkan turunnya pasokan dari Pulau Jawa dan terganggunya produksi di tingkat lokal Bali. Kondisi ini memberikan keuntungan tersendiri bagi petani cabai di Tabanan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Ir. I Nyoman Budana, M.M., Selasa (23/2), mengungkapkan akibat turunnya pasokan, harga cabai rawit di pasaran melonjak. Sejumlah petani pun diuntungkan karena harga di tingkat produsen juga mengalami lonjakan. Kondisi harga yang bagus ini sekaligus biasanya akan membuat petani makin bergairah untuk pengembangan budi daya cabai rawit.

Pengalaman sebelumnya, biasanya ketika petani ini ramai-ramai menanam cabai karena tergiur harga jual yang mahal. Nantinya, membuat harga jual cabai rawit ini justru turun karena melimpahnya produksi. ”Mudah-mudahan itu tidak terjadi, peningkatan produksi nantinya tidak sampai membuat harga cabai ini anjlok,” harapnya.

Dikatakannya lebih lanjut, sentra produksi cabai rawit di Kabupaten Tabanan sebagian besar terdapat di Baturiti. Selain itu, pengembangan cabai rawit di Tabanan juga ada di daerah Penebel dan Marga. Selama ini produksi cabai rawit di Tabanan cukup rendah karena jumlah tanaman yang sedikit. Kini kondisi tersebut diperparah lagi dengan kendala di produksi disebabkan oleh meningkatnya intensitas serangan penyakit antraknosa dan meningkatnya intensitas layu maupun kematian tanaman cabai seiring dengan kondisi alam yang lembab karena tingginya intensitas hujan saat ini.

Plt. Kabid Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Gusti Ngurah Ketut Wicahyadi, SP, menambahkan, musim hujan membuat biaya produksi yang harus ditanggung oleh petani cabai makin meningkat. Tapi, seiring dengan kenaikan harga cabai di tingkat petani yang berkisar Rp 80.000 sampai Rp 85.000 per kg, membuat lonjakan biaya produksi tersebut masih tetap memposisikan petani cabai ini diuntungkan.

Guna menopang produksi cabai di pasaran sekaligus menjaga stabilitas harga, pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian menggelontorkan bantuan untuk pengembangan komoditi cabai. Menurutnya, pengembangan cabai rawit yang didapat Kabupaten Tabanan ini mencapai 25 hektar dengan lokasi tanam di Kecamatan Penebel. *man

BAGIKAN