Potensi Alam Melimpah, Desa Tibubiu Lirik Pengembangan Desa Wisata

Tabanan (bisnisbali.com) –Mengantongi potensi alam melimpah meliputi pantai, sawah hingga muara sungai, Desa Tibubiu di Kecamatan Kerambitan Tabanan mulai melirik pengembangan kawasan menjadi desa wisata. Terkait rencana itu, salah satu program yang telah diusulkan ke Dinas PUPRPKP Tabanan berupa pembuatan senderan sungai setempat. Tujuannya agar kawasan sungai layak dikunjungi wisatawan.

Anggota DPRD Tabanan asal Desa Tibubiu, I Ketut Arsana Yasa, mengungkapkan, selama ini Desa Tibubiu hanya terkenal dengan potensi pantai yakni Pantai Pasut yang ada di Banjar Pasut, Desa Tibubiu. Padahal selain pantai, Desa Tibubiu juga memiliki kawasan persawahan di Subak Sungsang yang tidak kalah indahnya untuk aktivitas wisata, seperti untuk jogging track, maupun bersepeda memanfaatkan jalan subak.

“Sayangnya potensi tersebut belum digarap secara maksimal. Saya yakin jika itu digarap masyarakat atau wisatawan yang ingin berolah raga ringan bisa menikmati suasana yang luar biasa,” tuturnya.

Arsana Yasa yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan ini mengungkapkan, panjang jalan subak yang bisa dimanfaatkan sebagai jogging track mencapai sekitar 4 sampai 6 kilometer yang mengarah ke pantai. Selama ini jalan subak tersebut sudah banyak yang menggunakan untuk jalur bersepeda maupun jogging, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19 ini terjadi.

“Jalur dari Belumbang sampai ke Pantai Pasut ini sudah banyak masyarakat lokal yang tahu. Kini tinggal dikemas, misalnya ditambah dengan tenpat penjualan sajian kuliner lokal, sehingga perekonomian warga juga meningkat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Desa Tibubiu juga memiliki muara Sungai Yeh Ho sepanjang 1,5 kilometer, kawasan tersebut jadi salah satu tempat favorit bagi para pemancing. Muara sungai Yeh Ho tersebut juga cocok untuk wisata air. Terkait itu pihaknya, telah mengajukan usulan penataan ke Dinas PUPRPKP Tabanan yang nantinya akan terus dikawal ke pusat. Usulan itu salah satunya berupa program senderan di sepanjang sempadan sungai sehingga jadi tempat layak untuk masyarakat dan wisatawan.

“Sepanjang jembatan yang menghubungkan Tibubiu Kelod dan Desa Beraban sekitar 1,5 kilometer sampai ke pantai Pasut dengan lebar 150 meter bisa dijadikan wahana air, sehingga kedua desa bisa menjadi desa wisata,” tandasnya.

Saat ini pengunjung yang datang ke Pantai Pasut tidak dikenakan biaya. Di sisi lain, Pantai Pasut yang sempat ditutup untuk umum dan sudah dibuka per 1 Agustus 2020 telah siap dengan penerapan protokol kesehatan.*man

BAGIKAN