Populasi Babi Turun Drastis

Sudah sejak beberapa bulan terakhir harga daging babi mengalami kenaikan.

BABI - Salah seorang pedagang daging babi tengah melayani pembeli di Denpasar. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Sudah sejak beberapa bulan terakhir harga daging babi mengalami kenaikan. Saat ini sudah mencapai Rp 90.000 per kilogram di pasaran dan Rp 45.000 per kilogram berat hidup di tingkat peternak. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya populasi babi di Bali. Terjadi penurunan populasi hingga 42,31 persen dari tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I.B. Wisnuardhana, Senin (18/1), mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, total populasi babi di Bali pada akhir tahun 2020 mencapai 398.291 ekor. Jumlah populasi tersebut mengalami penurunan sebanyak 292.088 ekor atau 42,31 persen dibandingkan data akhir tahun 2019. Akhir tahun 2019 tercatat populasi babi di Bali mencapai 690.378 ekor.

Turunnya populasi babi di Bali akibat suspect African Swine Fever (ASF) yang terjadi pada 2020 lalu. Kondisi ini mengakibatkan babi mati ataupun dijual oleh petertak, sehingga membuat populasi menurun. “Minimnya populasi membuat harga kemudian menjadi tinggi. Karena sesuai hukum pasar langkanya produk di tengah permintaan tinggi maka harga akan naik,” ungkapnya.

Disinggung soal populasi babi untuk hari raya Galungan dan Kuningan tiga bulan mendatang yang permintaan terhadap daging babi tinggi di Bali, pihaknya mengatakan itu menjadi PR besar. Sebab, untuk recovery atau meningkatkan populasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Kemudian, alternatif mensuplay babi dari luar Bali, juga belum bisa dilakukan. Hal tersebut dikarenakan adanya Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur masuknya babi ke Bali.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga babi saat ini mencapai level tertinggi yaitu Rp 45.000 per kilogram berat hidup. Sebelumnya harga tertinggi babi hidup hanya sampai Rp 35.000 per kilogram. *wid

BAGIKAN