PLTU Celukan Bawang Didorong Terapkan  ’’Co-firing’’

PLN telah menerapkan co-firing pada pembangkit listrik guna mengurangi dampak lingkungan penggunaan batu bara.

Denpasar (bisnisbali.com) – PLN telah menerapkan co-firing pada pembangkit listrik guna mengurangi dampak lingkungan penggunaan batu bara. Saat ini sudah ada 26 PLTU menerapkan co-firing, yaitu proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batubara di  PLTU.

Targetnya, PLN dapat melakukan co-firing pada 52 lokasi PLTU batu bara eksisting sampai dengan tahun 2024. Khusus di Bali, pembangkit yang menggunakan batu bara hanya PLTU Celukan Bawang di Gerokgak, Buleleng.

Manager Humas PLN UID Bali, I Made Arya, Senin (1/3), mengatakan di Bali sampai saat ini belum ada co-firing. Diakuinya, belum ada penjajakan ke PLTU Celukan Bawang. Meski demikian, Indonesia Power berupaya mendorong mitra binaan di TOSS Klungkung lewat BUMDes-nya agar bersurat ke PLTU Celukan Bawang untuk membeli pelet. Pelet tersebut bisa digunakan sebagian untuk menggantikan batu bara.

Harga pelet yang dihasilkan TOSS Klungkung Rp 500 per kilogram. Jika pelet ini dikirim ke PLTU Jeranjang yang notabene sudah menerapkan co-firing, maka biaya pengirimannya mahal. Kalkulasi penjualan ke PLTU Jeranjang, harga pelet mencapai Rp 2.500 per kilogram.

Sedangkan, peraturan menteri menyebutkan harga pelet harus lebih murah 80 persen dari harga batu bara, sehingga seharusnya harga pelet paling mahal Rp 610. Oleh karena itu, Indonesia Power harus memutar strategi lain yaitu menawarkan pelet ke Celukan Bawang.

Sementara itu, untuk bauran energi terbarukan, Indonesia Power telah menggunakan panel surya (PS) di gedung lewat solar cell yang menghasilkan energi kurang lebih 700 KWp dan membangun mesin gasifier yang menghasilkan kurang lebih 30 KW. Indonesia Power berencana membangun solar cell di Pemaron sebesar 1 MW. Sejauh ini, rencana tersebut belum terealisasi. *kmb42

BAGIKAN