Peternak Mandiri Enggan Tingkatkan Populasi Ayam  

Harga ayam potong di tingkat pedagang mengalami tren kenaikan. Terbaru, harga sudah bercokol di kisaran Rp 35.000 per kg atau naik dari sebelumnya yakni Rp 30.000 per kg.

Tabanan (bisnisbali.com) –Harga ayam potong di tingkat pedagang mengalami tren kenaikan. Terbaru, harga sudah bercokol di kisaran Rp 35.000 per kg atau naik dari sebelumnya yakni Rp 30.000 per kg. Meski harga naik, sejumlah peternak ayam mandiri di Kabupaten Tabanan memilih tak menambah populasi atau isian kandang, setelah sempat mengurangi produksi akibat dampak pandemi Covid-19 pada usaha peternakan ayam potong.

Salah seorang peternak ayam mandiri di Desa Tunjuk, I Wayan Sukasana, Kamis (5/11) kemarin, mengungkapkan, lonjakan harga daging ayam di pasaran ini seiring dengan harga di tingkat peternak yang mengalami kenaikan. Saat ini di tingkat peternak harga ayam berada di kisaran Rp 21.000 per kg, atau naik secara bertahap dari posisi sebelumnya yang bergerak di bawah Rp 20 ribuan per kg.

“Sebelum posisi Rp 21.000 per kg ini, harga ayam di tingkat peternak ini lama berada di bawah posisi Rp 20 ribuan per kg. Baru sejak dua hari terakhir harganya mengalami lonjakan,” tuturnya.

Kata Suksana, harga yang baru ini sekaligus memposisikan harga di tingkat peternak sudah berada di atas angka break even point (BEP). Sebab, BEP untuk peternakan ayam potong ini berada di level Rp 19.000 per kg. Secara hitung-hitungan, dengan harga yang baru ini peternak sudah diuntungkan. Namun, lonjakan harga ini tidak serta merta jadi angin segar bagi peternak ayam mandiri, sehingga sejumlah peternak justru memilih untuk bertahan dengan populasi yang ada atau tidak melakukan penambahan sesuai dengan kapasitas isian kandang. ”Saat ini saya memilih bertahan bertahan dengan jumlah populasi yang ada atau 20-30 persen dari total isian kandang yang mencapai ribuan ekor,” ujarnya.

Pertimbangannya, lonjakan harga ayam di tingkat peternak ini masih berpotensi mengalami fluktuasi atau belum menjamin harga akan naik terus di tengah tidak adanya kepastian serapan pasar dampak pandemi Covid-19. Selain itu, saat ini hampir sebagian besar kondisi permodalan yang dimiliki oleh peternak ayam mandiri sudah menipis setelah cukup lama mengalami kerugian dipicu oleh anjloknya harga ayam. Apalagi kini di tengah naiknya harga ayam, dibarengi juga dengan naiknya harga DOC dan rencana naiknya harga pakan pabrikan dalam waktu dekat.

“Peternak bisa saja menambah populasi dengan membeli DOC, namun belum tentu bisa menanggung biaya produksi untuk pakan yang juga cukup mahal. Artinya, kekuatan peternak ini sudah tidak ada, sehingga hanya bisa bertahan saja,” kilahnya.

Di sisi lain menurutnya, lonjakan harga daging ayam di pasaran ini dipicu oleh menurunnya populasi atau produksi di tingkat peternak saat ini. Selain itu, lonjakan dipicu juga dengan serapan pasar yang meningkat akibat momen libur panjang lalu dan ditambah dengan banyak kegiatan upacara agama di Bali saat ini.

Sementara itu, salah seorang pedagang ayam di pasar Tabanan, Kadek Rusmini mengungkapkan, harga daging ayam ini sudah naik menjadi Rp 35.000 per kg dari Rp 30.000 per kg. Lonjakan harga tersebut sudah terjadi di tingkat tukang potong, sehingga pedagang hanya menyesuaikan lonjakan harga yang terjadi. *man

BAGIKAN