Peternak Babi Harapkan Bantuan Bibit  

Sejumlah peternak babi di Kabupaten Tabanan telah bangkit kembali dengan melakukan isian kandang, setelah sempat mengalami kerugian dengan kematian babi secara mendadak akibat  suspect virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi.

PETERNAK - Peternak babi di Tabanan mulai kembali berproduksi.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah peternak babi di Kabupaten Tabanan telah bangkit kembali dengan melakukan isian kandang, setelah sempat mengalami kerugian dengan kematian babi secara mendadak akibat  suspect virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi. Seiring dengan itu, peternak berharap pemerintah daerah membantu dalam ketersediaan bibit babi mengingat stok bibit sudah menipis saat ini.

Peternak babi di Desa Sudimara, Tabanan, I Nyoman Ariadi, Senin (9/11) kemarin, mengungkapkan, saat ini peternak babi di Tabanan beberapa sudah kembali lagi untuk mencoba beternak meski masih dibayangi ancaman terjadinya kasus kematian babi secara mendadak. Peternak mencoba dalam jumlah yang terbatas, mengingat beberapa peternak masih waswas dengan potensi munculnya kasus kematian mendadak seperti sebelumnya. Selain itu, kini untuk mencoba kembali, peternak dihadapkan pada susahnya untuk mendapatkan bibit babi dan harganya sangat mahal.

“Saat ini untuk di Tabanan ketersediaan bibit babi sudah jauh menurun dari sebelumnya, sehingga itu pula yang menyebabkan harga bibit babi ini mahal saat ini,” kata Ariadi yang juga menjabat Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gupbi) Bali.

Dijelaskannya, harga bibit babi ini sangat mahal, bahkan bisa dibilang termahal dari harga yang pernah ada selama ini. Sebab, per ekor harga bibit babi yang sebelumnya rata-rata diperdagangkan di kisaran Rp 600 ribu, kini harga tersebut sudah melonjak diperdagangkan di kisaran Rp 800 ribu per ekor dan bahkan ada yang mencapai Rp 1,3 juta per ekor untuk bibit yang baru sapih dengan berat 12 sampai 13 kg per ekor. Hal sama juga terjadi pada babi potong di tingkat peternak yang naik ke kisaran Rp 38 ribu per kg hingga Rp 40 ribu per kg saat ini.

Bercermin dari itu, dia berharap pemerintah berperan memikirkan tentang parent stock babi atau ketersediaan bibit di pasaran, sehingga kondisi peternakan babi di Bali bisa kembali pulih. Sementara untuk mekanisme bantuan nanti, silakan pemerintah yang mengatur. Misalnya, peternak diberikan bantuan satu ekor indukan babi, dari bantuan tersebut peternak dituntut untuk mengembalikan bantuan dalam bentuk dua ekor bibit. Lanjut kemudian pengembalian bibit ini digulirkan kepada peternak lainnya.

Hal terpenting, bantuan itu nanti yang diberikan harus juga bisa menjamin keseimbangan ketersediaan dan harga yang ideal di pasaran. Artinya, peternak dapat lebih dari biaya produksi yang dikeluarkan, namun di sisi lain tidak ada fluktuasi harga baik naik maupun turun yang terlalu ekstrem seperti saat kasus kematian babi secara mendadak beberapa bulan lalu.

Sementara itu, Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Suamba, mengungkapkan, saat ini sejumlah peternak babi sudah kembali mengisi kandang atau berproduksi kembali. Namun, produksi babi yang diusahakan ini rata-rata tidak sebanyak sebelumnya, mengingat nampaknya peternak babi ini masih trauma akan kasus kematian babi secara mendadak sebelumnya.

“Peternak babi sudah mulai berproduksi, namun terkait berapa besar dampaknya pada populasi babi di Tabanan saat ini kami belum lakukan pendataan. Rencana akhir Desember nanti baru akan dilakukan pendataan,” tandasnya.*man

BAGIKAN