Peternak Ayam Diminta Antisipasi Penurunan Permintaan

Kenaikan harga pakan dirasakan peternak ayam pedaging saat ini. Namun, masih tingginya harga ayam di pasaran membuat peternak bisa bernapas untuk sementara waktu.

AYAM - Pedagang mengeluarkan ayam untuk ditimbang.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kenaikan harga pakan dirasakan peternak ayam pedaging saat ini. Namun, masih tingginya harga ayam di pasaran membuat peternak bisa bernapas untuk sementara waktu. Kondisi ini pun harus diantisipasi mengingat ke depannya penurunan harga ayam kemungkinan terjadi dan berpotensi merugikan peternak.

Ketua Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Broiler Bali, I Ketut Yahya Kurniadi, Selasa (27/4), mengatakan, saat ini harga ayam di tingkat peternak Rp 25.000 per kg. Harga tersebut diakuinya cukup bagus, seiring dengan kenaikan harga pakan yang terus terjadi.

Tingginya harga daging ayam saat ini dikarenakan beberapa faktor. Seperti, momen bulan puasa, hari raya Galungan dan Kuningan, serta tingginya harga daging babi. Semua faktor tersebut, dikatakannya, memberi dampak positif bagi peternak. Sebab, tingginya permintaan diikuti juga dengan harga yang menguntungkan bagi peternak.

Meski demikian, Yahya mengatakan, permintaan kemungkinan akan menurun untuk beberapa waktu ke depan. Hal tersebut dikarenakan hari raya umat Hindu sudah usai termasuk momen Lebaran juga akan segera berakhir.

Dalam situasi perekonomian yang masih lemah, serta keadaan para peternak yang sering merugi sejak 2019 lalu, peternak khususnya yang mandiri secara otomatis akan mengurangi jumlah produksi. “Terutama bagi mereka yang jeli sudah otomatis akan mengurangi produksi ke depan. Karena saat ini kita sangat berhitung dengan dana yang masih tersisa, jangan sampai merugi lagi,” terangnya.

Diakuinya, harga pakan saat ini mengalami kenaikan yang tinggi. Sebelumnya, harga pakan hanya Rp 6.300 hingga Rp 6.400 per kg. Namun, saat ini sudah mencapai Rp 7.800 hingga Rp 8.000 per kg. Ditambah lagi kenaikan harga day old chicken (DOC) yang kini mencapai Rp 8.000 per ekor dari sebelumnya Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per ekor. Hal itulah yang membuat biaya produksi tinggi. “Dengan kondisi ini HPP (harga pokok produksi) kita Rp 22.000 per ekor,” terangnya sembari mengatakan, harga harus di atas itu agar peternak tidak mengalami kerugian. *wid

BAGIKAN