Peternak Ayam di Tabanan Berupaya Angkat Harga Produksi

Sejumlah peternak ayam di Kabupaten Tabanan berupaya mengangkat harga jual produksi ke level Rp 12.000 per kg

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah peternak ayam di Kabupaten Tabanan berupaya mengangkat harga jual produksi ke level Rp 12.000 per kg. Upaya tersebut dilakukan setelah selama sebulan dihadapkan pada anjloknya harga jual hingga menyentuh kisaran Rp 6.000 per kg di tingkat peternak.

“Setelah sempat harga ayam ini naik di tengah pandemi Covid-19 dengan berada di kisaran Rp 28.000 per kg, sejak sebulan terakhir harganya kembali turun secara bertahap hingga menyentuh Rp 6.000 per kg. Sebab itu, per hari ini kami bersama peternak mandiri lainnya berupaya mengangkat harga ke level Rp 12.000 per kg,” tutur salah seorang peternak ayam potong di Desa Tunjuk, Tabanan, I Wayan Sukasana, Selasa (18/8).

Menurutnya, harga yang anjlok ini telah membuat banyak peternak ayam mandiri tidak bisa mengantongi pemasukan (cashflow). Bahkan, banyak produksi peternak yang tidak bisa terserap oleh pasar sekarang ini. Dampaknya, peternak mandiri merugi, karena sebelumnya sempat menaikkan populasi isian kandang seiring dengan membaiknya harga jual saat itu.

Wakil Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Bali ini mengungkapkan, sebelumnya dengan kondisi pandemi Covid-19 sempat dilakukan pengukuran terkait daya beli atau serapan pasar akan ayam potong. Hasilnya, tercatat dengan belum optimalnya operasional hotel maupun restoran dan daya beli konsumen yang turun, serapan pasar di Bali hanya mampu mencapai 40 persen dari serapan sebelum pandemi Covid-19 dengan harga jual berada di level Rp 28.000 per kg.

Saat itu, dengan level harga jual ayam yang dinilai menjanjikan, dimanfaatkan oleh kalangan peternak ayam untuk kembali berproduksi atau mengisi kandang, setelah sebelumnya sempat berhenti berproduksi karena dampak pandemi Covid-19. Dari penambahan populasi di kalangan peternak tersebut berdampak pada naiknya produksi ayam ke kisaran 80 persen. Akibatnya, sejak sebulan terakhir harga ayam potong ini malah hancur, karena ternyata daya serap pasar di Bali tidak mampu menampung peningkatan produksi. Artinya, ada kelebihan 40 persen yang tidak bisa terserap sehingga harga ayam di tingkat peternak anjlok.

Guna mencegah kerugian lebih besar, pihaknya bersama peternak mandiri lainnya memberanikan diri untuk sepakat mengangkat harga ke level Rp 12.000 per kg. Kondisi tersebut sejalan dengan harga jual ayam potong di luar Bali khususnya Jawa yang berada di level Rp 15.000 per kg sampai Rp 16.000 per kg. Selain itu, sembari berupaya mengangkat harga jual, sementara waktu juga diupayakan dengan mengerem populasi kandang.

“Saat ini kami berharap untuk lonjakan harga ayam ini terjadi pada momen Galungan dan Kuningan mendatang. Bila nanti pada momen hari raya itu tidak juga mampu menaikkan harga jual ayam, maka kemungkinan kami akan menunda dulu produksi hingga akhir tahun nanti sambil berharap harga akan kembali membaik,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Suamba membenarkan bahwa harga ayam potong di tingkat peternak ini tengah mengalami penurunan saat ini. Namun, untuk seberapa besar penurun harga yang terjadi di tingkat peternak ini belum diketahui secara pasti.

Terkait itu dia berharap, sementara ini agar peternak menjaga kesimbangan populasi atau jumlah produksi. Itu dimaksudkan, agar produksi yang ada sesuai dengan serapan atau kebutuhan pasar di tengah kondisi pandemi Covid-19. “Kemungkinan dengan membaiknya harga jual sebelumnya, kondisi itu dimanfaatkan oleh peternak menambah produksi sehingga terjadi penurunan harga seperti yang terjadi saat ini,” tandasnya.*man

BAGIKAN