Petani Sayur Enggan Berproduksi

Sejumlah petani sayur di Kabupaten Tabanan enggan mengolah lahan atau berproduksi kembali, meski harga jual produk di pasaran berpotensi akan makin mahal seiring dengan minimnya produksi petani dan meningkatnya serapan pasar terutama pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

LAHAN - Lahan produksi sayur yang tak ditanami oleh petani, menyusul kerugian dialami sebelumnya 

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah petani sayur di Kabupaten Tabanan enggan mengolah lahan atau berproduksi kembali, meski harga jual produk di pasaran berpotensi akan makin mahal seiring dengan minimnya produksi petani dan meningkatnya serapan pasar terutama pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang. Setelah sempat anjlok, saat ini, harga sejumlah komoditas hortikultura di pasaran sudah kembali normal.

Seorang petani sayur di Baturiti, Wayan Mustika, Selasa (3/11) kemarin, mengungkapkan, harga sayuran di tingkat petani mulai mengalami lonjakan dan kemungkinan akan terus mengalami tren kenaikan seiring dengan musim hujan dan momen Nataru yang berpotensi menyumbang peningkatan serapan pasar akibat melonjaknya kunjungan wisatawan ke Bali pada saat akhir tahun nanti. Namun baginya, hal tersebut belum menjadi daya tarik untuk kembali mengolah tanah atau bercocok tanam sayur, setelah sebelumnya mengalami banyak kerugian disebabkan oleh harga jual sayur yang sempat anjlok.

“Harga sayur memang sudah kembali pulih, bahkan ada potensi untuk terus naik. Namun saya belum berani untuk kembali menanam setelah sebelumnya mengalami kerugian akibat anjloknya harga sayur sebelumnya, sehingga sejak Agutus lalu saya tidak lagi berproduksi,” tuturnya.

Kata Mustika, meski potensi harga terus naik, saat ini dengan kondisi pandemi Covid-19 pihaknya belum berani untuk bersplekulasi menanam sayur kembali. Sebab pertimbanganya, serapan pasar untuk sayur ini masih belum menjanjikan, meski sejumlah hotel dan restoran sudah ada operasional kembali seiring dengan kunjungan wisatawan ke Bali yang mulai naik didominasi oleh wisatawan domestik.

Selain itu, pihaknya khawatir ketika semua petani berlomba-lomba meningatkankan produksi seiring dengan melonjaknya harga dan momen Nataru nanti, justru akan membuat harga sayur di pasaran kembali anjlok mengingat produksi yang melimpah. “Saat ini saya tidak berani berspekulasi. Ketimbang nanti sudah mengeluarkan biaya mahal untuk produksi namun harga jual justru anjlok, ujung-ujungnya, ya kembali merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, saat harga sayur anjlok belum lama ini, ia mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 75 juta dengan luasan lahan produksi mencapai 1 hektar. Kerugian tersebut muncul dari biaya pemupukan, pembelian bibit, tenaga kerja hingga perawatan tanaman yang tidak sesuai dengan harga jual ketika panen. Padahal sudah mengalihkan jenis tanaman yang dibudidayakan dari sebelumnya untuk kalangan hotel dan restoran, beralih ke jenis sayur dengan serapan pasar tradisional, namun tetap saja tidak berpengaruh pada pendapatan yang diterima.

Pihaknya kemungkinan baru akan kembali mengolah tanah atau bercocok tanam apabila vaksin Covid-19 sudah disebarluaskan dan pariwisata kembali dibuka untuk wisatawan mancanegara. Menurutnya, kondisi tersebut baru akan membuat serapan pasar akan produk pertanian khususnya sayur-sayuran ini menjadi menjanjikan, sehingga petani juga mempunyai kepastian pasar bila hasil panennya diserap pasar dengan harga yang stabil.

Sementara itu, data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tabanan mencatat harga sejumlah komoditi sayur di tingkat pedagang di pasar tradisional mengalami lonjakan. Di antaranya, tomat dari Rp 3.000 per kilogram naik menjadi Rp 4.000 per kilogram. Untuk komoditas bumbu-bumbuan terjadi lonjakan pada cabai merah besar dari Rp 30.000 per kilogram ke angka Rp 32 ribu per kilogram, cabai merah kecil kualitas I naik dari Rp 20.000 per kilogram ke Rp 22.000 per kilogram, dan cabai merah kecil kualitas II naik dari Rp 18.000 per kilogram ke Rp 20.000 per kilogram. *man

BAGIKAN