Petani Didorong Manfaatkan ’’Digital Farming” dan ’’E-Commerce”

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan inflasi pada Februari 2021 akan tetap terkendali.

PETANI - Seorang petani di Basangkasa, Badung, mengusir burung yang menyerang tanaman padinya. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan inflasi pada Februari 2021 akan tetap terkendali. Meski demikian, curah hujan yang masih tinggi berpotensi untuk mengganggu musim tanam di triwulan I.

Menghadapi potensi tantangan tersebut, Kepala KPw BI Bali yang juga Wakil Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali, Trisno Nugroho di Denpasar mengajak TPID baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota melakukan kerja sama antardaerah, terutama dengan daerah penghasil cabai rawit. Sebab, peningkatan inflasi di Januari terjadi terjadi karena adanya peningkatan harga pada kelompok volatile food dan administered prices. “Hal ini tercermin dari  meningkatnya harga bahan makanan seperti cabai rawit dan daging ayam ras,” katanya, Selasa (2/2) kemarin.

Selanjutnya, perlu mengoptimalkan pemanfaatan mesin Control Atmosphere Storage (CAS)  atau mesin penyimpan. BI pun mengimbau agar petani tetap menanam sesuai dengan siklusnya agar pasokan tetap mencukupi. “BI terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming),” jelasnya.

Sementara, untuk TPID kabupaten/kota dan provinsi, Trisno mengatakan terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat, di antaranya memastikan distribusi yang terjaga antarwilayah dan antarpulau. Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali dan mendorong digitalisasi pada UMKM pertanian.

Berdasarkan data Trisno Nugroho menjabarkan, pada Januari 2021 Provinsi Bali kembali mencatat inflasi sebesar 0,79 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 0,26 persen (mtm). Berdasarkan perhitungan data BPS, inflasi terjadi di kedua kota perhitungan, yaitu Kota Denpasar sebesar 0,77 persen (mtm) dan Singaraja 0,94 persen (mtm).

Meskipun secara bulanan inflasi Bali lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional, namun secara tahunan, inflasi Bali pada Januari tercatat 1,02 persen (yoy) lebih rendah dibanding inflasi tahunan sebesar 1,55 persen.

Peningkatan inflasi di bulan Januari terjadi terjadi selain meningkatnya harga bahan makanan seperti cabai rawit dan daging ayam ras juga dari harga yang diatur pemerintah seperti tarif angkutan udara serta rokok kretek filter. Meskipun demikian, tekanan harga lebih mendalam tertahan dengan melandainya core inflation.

Kelompok volatile food mengalami kenaikan harga sebesar 3,82 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan harga terlihat untuk komoditas cabai rawit, mangga, daging ayam ras, daging babi, dan tempe. Peningkatan harga komoditas hortikultura disebabkan oleh masih terbatasnya pasokan di awal tahun pasca libur Nataru. “Selanjutnya, peningkatan harga daging babi juga masih disebabkan oleh turunnya jumlah ternak babi secara signifikan, diakibatkan oleh virus yang menyerang pada tahun 2020,” paparnya.

 Sementara, kelompok barang administered price diakui mencatat peningkatan harga sebesar 0,50 persen (mtm). Peningkatan tekanan harga pada kelompok ini disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan harga di Desember 2020.

Kelompok barang core inflation mencatat tekanan harga yang melandai, yaitu sebesar 0,17 persen. Menurunnya tekanan inflasi ini terjadi terutama pada harga tiket bioskop, sandal kulit pria, dan shampoo. Penurunan harga tiket bioskop sejalan dengan kembali dibukanya bioskop pascapenutupan di tahun 2020. Selanjutnya, harga shampoo dan sandal kulit pria menurun sejalan dengan penurunan pembelian oleh masyarakat. *dik

BAGIKAN