Petani di Tabanan Kembali Kembangkan Vanili

Sejumlah petani di Kabupaten Tabanan kembali mengembangkan vanili.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah petani di Kabupaten Tabanan kembali mengembangkan vanili. Budi daya tanaman dengan pangsa pasar ekspor ini sekaligus membuat pemanfaatan lahan tidur di daerah lumbung pangan kian optimal di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tabanan I Gusti Putu Wiadnyana, Senin (22/2) kemarin,  mengungkapkan pandemi membuat sejumlah lahan pertanian yang nganggur kini dimanfaatkan dengan baik, khususnya oleh kalangan pekerja di sektor pariwisata. Mereka yang dirumahkan atau di-PHK menggeluti sektor pertanian sebagai alternatif saat ini.

“Keberadaaan lahan kosong sudah banyak dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Komoditas yang dominan dikembangkan di lahan tersebut adalah sejumlah hortikultura, di antaranya  beberapa jenis tanaman buah, cabai, vanili dan porang,” bebernya seraya menyebut belum mendata lebih lanjut luas lahan yang dimanfaatkan tersebut.

Dijelaskannya, khusus tanaman vanili dan porang tampaknya sudah menjadi tren di masa pandemi ini. Itu tercermin dari banyaknya petani yang mencoba pengembangan dua komoditi tersebut. Dilihat dari potensi pasar, kedua komoditas tersebut memang cukup menjanjikan. Bahkan, jauh sebelumnya Tabanan merupakan sentra penghasil vanili dan produksinya sudah menembus pasar ekspor seiring tingginya kebutuhan pasar yang memanfaatkan vanili sebagai bahan baku olahan berbagai produk mulai untuk bahan baku makanan hingga kosmetik.

“Selama ini kebutuhan pasar dunia untuk vanili memang cukup tinggi. Itu karena tidak semua negara di dunia bisa mengembangkan tanaman vanili, seperti di Indonesia. Jadi, untuk jangka panjang kemungkinan pasarnya tetap aman,” ujar Wiadnyana.

Seiring kembali diliriknya vanili dan kelompok tani yang mengembangkan tanaman porang, Dinas Pertanian Tabanan melalui bantuan hibah di kabupaten menggelontorkan bantuan ke sejumlah kelompok pengembangan budi daya vanili dan porang. Bantuan tersebut sebagian besar menyasar daerah Kerambitan.

“Bantuan hibah tersebut mengacu pada usulan kelompok petani yang telah diajukan sebelumnya dan rata-rata alokasi yang didapat mencapai Rp 25 juta hingga Rp 50 juta per kelompok. Ada sekitar enam kelompok yang mendapat bantuan hibah tersebut,” jelasnya. *man      

BAGIKAN