Perubahan Perilaku Percepat Pemulihan Ekonomi

Diterpa krisis akibat Covid-19, sikap optimistis harus terus terus digemakan di semua sektor agar ekonomi terus bergerak ke arah pemulihan meskipun pergerakannya lambat.

PARIWISATA – Salah satu akomodasi pariwisata di Bali. Pariwisata merupakan sektor utama pendukung pertumbuhan ekonomi Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) – Diterpa krisis akibat Covid-19, sikap optimistis harus terus terus digemakan di semua sektor agar ekonomi terus bergerak ke arah pemulihan meskipun pergerakannya lambat. Diperlukan perubahan perilaku agar dapat memulihkan kembali perekonomian.

“Di Bali salah satunya, sektor utama mendukung pertumbuhan ekonomi adalah dari sektor pariwisata. Oleh karenanya, perubahan perilaku dengan penerapan protokol kesehatan apakah itu 3M maupun CHSE mutlak dilakukan,” kata pemerhati ekonomi, Kusumayni, M.M., di Denpasar, Selasa (10/11) kemarin.

Ia mengungkapkan, ekonomi tidak bisa tumbuh sendiri, namun perlu dukungan semua pihak. Ekonomi yang berjalan secara pararel bersama kesehatan merupakan hal yang positif, sehingga ekonomi maju tentu karena masyarakatnya sehat dan dunia usaha tumbuh. Ekonomi akan tumbuh maka Covid-19 akan bisa terlewati. Penanganan Covid-19 yang massif menjadi momentum pertumbuhan ekonomi. “Kuncinya adalah di era new normal maupun pascanormal ke depannya kita semua harus tetap menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia usaha,” ujarnya.

Ia pun menyebutkan, dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) selama ini, ekonomi bergerak perlahan. Sejumlah sektor ekonomi akan membaik secara perlahan di tengah masa pandemi tahun ini. Adapun sektor tersebut antara lain pertanian, transportasi, perdagangan berbasis digital. Geliat ekonomi yang baik ini dapat mendorong pelaku industri perbankan yang memiliki likuiditas longgar untuk kembali menjalankan fungsi intermediasinya.

Sementara itu, pemerhati ekonomi, Prof. Dr. Gede Sri Darma, DBA mengatakan, new normal artinya wajib masuk pada kehidupan normal kembali, namun dengan perilaku masyarakat dan model bisnis yang baru. “Pada saat new normal dunia usaha akan berbasis pada digital di tengah menerapkan social distancing dan  memberlakukan protokol kesehatan secara ketat seperti pakai masker dan lainnya,” katanya.

Direktur Undiknas Graduate School (UGS) tersebut menegaskan, new normal telah membawa pada kebiasaan, tradisi serta budaya baru bagi semua lapisan masyarakat dan dunia usaha. Model bisnis pun bergeser ke ranah serba online. Ini pula membuat sektor yang akan tetap hidup pada saat new normal adalah bisnis di sektor yang berbasis pada digital seperti e-commerce, bisnis online dan sejenisnya. “Semua bisnis konvensional harus bergeser ke bisnis yang ber-platform digital. Inilah momentum kita untuk berbenah jika bisnisnya bisa tetap survive,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengatakan, penerapan prokes yang ketat terbukti membawa pengaruh positif. Itu terlihat pada triwulan III 2020 perekonomian Bali mulai menunjukkan pemulihan sebagaimana tercermin pada pertumbuhan yang sebesar 1,66 persen (qtq) atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar -7,24 persen (qtq). Hal ini terlihat dari kenaikan nilai PDRB dari Rp 35,84 triliun di Q2 menjadi Rp 36,44 triliun di Q3 2020.

Perbaikan ini seiring dengan implementasi strategi pemulihan ekonomi yaitu penerapan tatanan kehidupan baru (program Clean Healthy Safety and Environment) khususnya di sektor pariwisata. Berdasarkan data dari 17 lapangan usaha, 11 di antaranya tercatat tumbuh positif di mana tiga pertumbuhan tertinggi dialami lapangan usaha jasa pendidikan yang tumbuh sebesar 3,98 persen (qtq), diikuti sektor jasa lainnya yang tumbuh sebesar 3,86 persen (qtq), dan informasi dan komunikasi yang tumbuh sebesar 3,78 persen (qtq).

Sejalan dengan mulai dibukanya wisatawan domestik, kata Trisno, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan positif masing-masing sebesar 3,41 persen (qtq), 3,64 persen (qtq) dan 3,4 persen (qtq). Dari sisi penggunaan, perbaikan terjadi pada komponen konsumsi pemerintah (21,76 persen qtq), ekspor luar negeri (11,17 persen qtq), dan investasi (32,68 persen qtq). Sedangkan konsumsi rumah tangga masih tumbuh terbatas (1,87 persen qtq).

Trisno pun menyebutkan, untuk mempercepat pemulihan, penerapan teknologi dan digitalisasi merupakan sebuah keharusan di era tatanan kehidupan baru. *dik

BAGIKAN