Pertunjukan Kesenian Kedepankan Prokes

Pementasan pertunjukan kesenian di objek wisata kini wajib menggunakan protokol kesehatan (prokes) untuk menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan dari penyebaran virus Corona.

TARI KECAK – Para penari kecak menggunakan masker atau face shield guna mengantisipasi Covid-19.

Mangupura (bisnisbali.com) – Pementasan pertunjukan kesenian di objek wisata kini wajib menggunakan protokol kesehatan (prokes) untuk menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman bagi wisatawan dari penyebaran virus Corona. Salah satunya, pementasan tari kecak di Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu yang menjadi daya tarik wisata (DTW) favorit wisatawan domestik ketika di Bali.

Di objek wisata ini, pengelola menerapkan prokes dengan menyediakan tempat cuci tangan dan mengecek suhu tubuh pengunjung. Wisatawan yang menyaksikan pentas tari kolosal wajib memakai masker, mencuci tangan dan dicek suhu tubuhnya oleh petugas yang berjaga. Para pengunjung terus diwajibkan selalu mentaati 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) selama berada di objek wisata.

Penerapan prokes tidak hanya bagi wisatawan, para penari kecak pria juga menerapkannya dengan menggunakan masker. Termasuk penari wanita tampak menggunakan face shield atau pelindung wajah. Dari jam pertujukan saat pandemi ini juga tidak dikurangi karena tari kecak dipentaskan selama kurang lebih 1 jam oleh sekitar 50 orang penari. Tidak hanya itu, jumlah penonton dibatasi hanyak 400 orang saja selama pandemi dari kapasitas normal sebanyak 1.200 orang.

Salah satu wisatawan lokal, Komang Ayu mengaku tidak masalah dengan penerapan prokes di objek wisata. Kebijakan tersebut dalam upaya kebaikan bersama dan demi menekan penyebaran Covid-19. Harapannya, dunia pariwisata kembali bangkit dan membuat perekonomian Bali bisa bangkit.

Efendi, salah seorang wisatawan domestik yang menonton pementasan tari kecak di DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu mengaku terkesan dengan ketatnya prokes yang diberlakukan pihak penyelenggara. Itu dalam upaya memberikan rasa aman dan nyaman meskipun harus berulang kali diminta cuci tangan dan cek suhu tubuh.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho mengatakan, sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali sangat terdampak pandemi Covid-19.  Karenanya, BI Bali menilai perlu peran semua pihak untuk bersatu padu agar sektor pariwisata di Pulau Dewata mampu bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Bank sentral terus berupaya mendukung agar sektor pariwisata di Bali bangkit kembali. Caranya, BI aktif bersama sama dengan pemda dan pelaku pariwisata seperti PHRI, BHA dalam hal memikirkan, mengusulkan dan mencari solusi atas upaya upaya memajukan pariwisata di Bali. “Upaya itu kami lakukan mendukung program program seperti Bali Great Experience, Bali Movement. Kami juga terlibat aktif dalam setiap diskusi pariwisata untuk  memberikan pemikiran kami kepada pemerintah daerah,” katanya.*dik

BAGIKAN