Pertumbuhan Ekonomi Masih Negatif

Pertumbuhan ekonomi diasumsikan bergerak negatif pada triwulan I tahun 2021.

SEPI – Kawasan pertokoan dan pusat perbelanjaan di Kuta yang sepi selama pandemi. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Pertumbuhan ekonomi diasumsikan bergerak negatif pada triwulan I tahun 2021. Pemerhati ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menyebutkan, diperkirakan ekonomi masih bergerak -1 persen hingga -2 persen.

“Salah satu faktornya adalah kasus Covid-19 baru masuk pada Maret 2020, sehingga pada triwulan I 2020 lalu ekonomi masih bergerak normal. Baru pada kuartal II 2020 terjadi kontraksi,” kata Bhima, Senin (22/3) kemarin.

Penyebab lain adalah tekanan pada sisi permintaan masyarakat yang rendah karena industri belum bergerak ke posisi normal. Sementara, pertumbuhan negatif ekonomi pada triwulan I tidak sedalam kuartal IV 2020 lalu karena ada bantuan rebound harga komoditas baik batu bara maupun CPO.

Bagaimana dengan dampak program vaksinasi Covid-19 yang saat ini masif digelar pemerintah? Bhima mengakui vaksinasi yang berjalan lancar tentu juga menjadi pendorong pemulihan ekonomi. Karena itu, proyeksi ekonomi tumbuh positif pada kuartal ke II atau ke III tahun ini. “Kita masih mencermati dampak Ramadhan dan Lebaran terhadap konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memastikan kinerja perekonomian pada triwulan I tahun ini akan tumbuh lebih kuat dibandingkan triwulan IV tahun 2020. Hal ini seiring dengan membaiknya sejumlah indikator ekonomi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2021 bisa mencapai kisaran 4,3 sampai 5,3 persen atau lebih baik dari 2020 yang tercatat kontraksi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini perbaikan perekonomian domestik akan terus berlanjut seiring dengan adanya pemulihan ekonomi global, implementasi program vaksinasi, serta sinergi kebijakan nasional untuk memperkuat kegiatan ekonomi. Seperti diketahui Kantor Perwakilan BI Bali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata tahun ini dari semula 4,5 persen hingga 5,5 persen menjadi 3,5 persen sampai dengan 4,5 persen. Pemulihan sektor pariwisata yang belum terlihat menjadi salah satu alasan revisi berlaku.

Kepala Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho beberapa waktu lalu menerangkan  pandemi Covid-19 yang sudah berjalan sekitar setahun ini telah menyebabkan perekonomian nasional mengalami kontraksi yang dalam sekitar -2,07 persen. “Khusus untuk Bali, kontraksi pertumbuhan ekonominya lebih dalam lagi mencapai -931 persen,” ucapnya.

Sementara itu, Deputi Kepala KPw BI Bali Rizki Ernadi Wimanda mengatakan revisi pertumbuhan ekonomi menyesuaikan dengan realisasi pergerakan wisatawan ke Bali. Sebab dengan adanya PPKM yang masih berlangsung, kunjungan wisatawan domestik ke Bali cenderung menurun. Begitu juga dengan kunjungan wisatawan mancanegara yang selama ini menjadi penggerak pariwisata di Bali masih terbatas. *dik

BAGIKAN