Persiapan Usaha Pascacovid-19, Dunia Usaha Diprediksi Perlukan Waktu 3-6 Bulan

Berdasarkan hasil survai Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menunjukkan responden masih memandang dunia usaha masih prospektif selaras dengan perekonomian di daerah ini pascacovid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) –Berdasarkan hasil survai Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menunjukkan responden masih memandang dunia usaha masih prospektif selaras dengan perekonomian di daerah ini pascacovid-19. Seluruh responden menyatakan akan tetap menjalani usaha pasca Covid-19 dengan waktu yang diperlukan untuk persiapan usaha sekitar 3-6 bulan.

“Itu berdasarkan survai persepsi bisnis dan tenaga kerja. Survei dilaksanakan pada Minggu ke IV dan V April 2020 terhadap 60 responden,” kata Perwakilan dari KPw BI Bali Rizki W. Wimanda dalam diseminasi hasil survai terkait perkembangan ekonomi di Renon.

Ia mengatakan adanya Covid-19 dipersepsikan akan berdampak terhadap usaha dalam 6- 9 bulan (sampai akhir tahun 2020). Ke depan, dunia usaha masih memandang prospek perekonomian di Bali pascaadanya Covid-19. Itu terlihat dari hasil survai yang menunjukkan 100 persen responden akan kembali melakukan usaha pascacovid-19.

Responden juga menyampaikan lamanya covid-19 akan mempengaruhi dunia usaha. Jika covid-19 selama 3 bulan maka akan mempengaruhi usaha mencapai24,1 persen. Selama 6 bulan mempengaruhi usaha 34,5 persen, 9 bulan sampai 36,2 persen.

Sementara survai permintaan akan normal dalam 3 bulan mencapai 22,4 persen, 6 bulan mencapai 39,7 persen dan 9 bulan mencapai 32,8 persen. Untuk survai lamanya persiapan usaha dalam 3 bulan mencapai 36,8 persen, 6 bulan mencapai 52,6 persen.

Sementara itu pemerhati ekonomi dari KPw BI Bali, M. Setyawan Santoso mengatakan Bali mengalami krisis ekonomi karena pertumbuhan ekonomi Bali melambat, tapi tidak resesi ekonomi. Selain itu, dari kondisi ini akan mendapat stimulus dari pemerintah pusat.

Menurutnya dengan memiliki pengalaman yang cukup panjang terhadap goncangan ekonomi, Bali harus memiliki keseimbangan ekonomi atau bumper ekonomi.

“Pariwisata memang tulang punggung ekonomi Bali, tetapi juga harus memiliki bumper ekonomi,” katanya.

Sektor usaha yang peluang adalah pertanian dengan indikator sumbangannya pada PDRB 16 persen dan 20 persen menyerap tenaga kerja. “Termasuk usaha di sektor kreatif,” katanya.

Ia menegaskan sektor kreatif bisa juga dari pertanian yaitu dari sisi kemasan produk pertanian maupun cara pemasarannya. Satu contoh memanfaatkan digital marketing. Selain itu, sektor industri juga bisa dikemas oleh sektor ekonomi kreatif, misalnya tempat tidur bisa juga menjadi meja dan produk industri lainnya.*dik

BAGIKAN