Permintaan Bahan Makanan Diperkirakan Meningkat

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan hari raya Galungan dan Bulan Ramadan yang jatuh bulan ini akan mengkatrol permintaan bahan makanan dan canang sari.

BUMBU - Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Badung. Kebutuhan akan bahan bumbu dapur mengalami peningkatan menjelang hari raya Galungan.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memperkirakan hari raya Galungan dan Bulan Ramadan yang jatuh bulan ini akan mengkatrol permintaan bahan makanan dan canang sari. “Menghadapi potensi tantangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus melakukan kerja sama antardaerah, mengoptimalkan pemanfaatan mesin controlled atmosphere storage (CAS) dan mengimbau masyarakat untuk menanam cabai di pekarangan rumah, sekolah, dan lahan yang tidak terpakai,” kata Wakil Ketua TPID Bali, Trisno Nugroho, di Denpasar, Jumat (2/4).

Trisno yang juga Kepala KPw BI Bali ini menerangkan, bank sentral terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming). Ia pun menyampaikan, dari sisi inflasi, pada Maret 2021 Bali mengalami inflasi sebesar 0,52 persen (mtm). Inflasi terutama terjadi di dua kelompok barang, yaitu volatile food dan administered prices, dengan core inflation tercatat stabil. Secara spasial, kota Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,47 persen (mtm), sedangkan kota Singaraja mengalami inflasi sebesar 0,81 persen (mtm). “Secara tahunan, Bali mengalami inflasi sebesar 0,84 persen lebih rendah dibanding inflasi nasional yang sebesar 1,37 persen,” ujarnya.

Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 2,78 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan harga terlihat utamanya pada komoditas cabai rawit, daging ayam ras, tongkol diawetkan, dan bawang merah. “Peningkatan inflasi ini sejalan dengan naiknya permintaan berkaitan dengan datangnya hari raya Nyepi yang disertai oleh menurunnya pasokan tanaman hortikultura akibat curah hujan yang tinggi,” imbuhnya.

Sementara, kelompok barang administered price mencatat inflasi sebesar 0,31 persen (mtm), terutama disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara dan komoditas rokok. Peningkatan tarif tiket pesawat udara sejalan dengan adanya long weekend di bulan Maret. Selanjutnya, peningkatan harga rokok disebabkan oleh naiknya cukai rokok dimulai pada bulan Februari 2021.

Sementara itu, harga di kelompok core inflation relatif stabil dengan inflasi sebesar 0,04 persen (mtm). Peningkatan harga terlihat untuk komoditas popok bayi, sandal kulit, krim wajah, dan baju kaus.

“BI menilai bahwa inflasi Bali sampai dengan bulan Maret masih dalam keadaan stabil dan terkendali. Namun demikian, berberapa komoditas seperti cabai rawit dan cabai merah masih menunjukkan tren kenaikan, demikian juga harga daging babi yang masih tinggi,” ungkap Trisno. *dik

BAGIKAN