Permintaan Anjlok, Harga Kopi di Tabanan Merosot

Panen raya kopi tengah berlangsung di Kabupaten Tabanan. Ironisnya, petani malah kelimpungan karena minimnya permintaan akibat pandemi Covid-19. Harga kopi pun menurun signifikan dibandingkan sebelumnya.

KOPI - Penjemuran kopi hasil panen petani di Tabanan. 

Tabanan (bisnisbali.com) –Panen raya kopi tengah berlangsung di Kabupaten Tabanan. Ironisnya, petani malah kelimpungan karena minimnya permintaan akibat pandemi Covid-19. Harga kopi pun menurun signifikan dibandingkan sebelumnya.

Petani kopi jenis robusta di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Nyoman Suardana, Senin (3/8), mengungkapkan, Agustus ini merupakan awal musim panen kopi dan kemungkinan akan terjadi hingga September mendatang. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, produksi kopi tahun ini merupakan panen raya dengan volume produksi yang meningkat signifikan.

Namun sayangnya di tengah peningkatan produksi ini petani dihadapkan pada berbagai kendala seiring dengan dampak Covid-19. “Kendala yang dimunculkan dari dampak Covid-19 membuat banyak petani kopi di Tabanan akhirnya hanya bisa pasrah menghadapi musim panen tahun ini,” tuturnya.

Mantan Ketua Subak Abian Batur Cepaka ini mengungkapkan, kendala yang dihadapi petani di tengah pandemi Covid-19 ini adalah menurunnya permintaan pasar sebagai dampak tidak optimalnya operasional usaha khususnya di bidang pariwisata di tingkat lokal maupun di luar Bali. Kondisi tersebut yang juga membuat pembeli atau pengepul ini menurunkan permintaan, bahkan ada sejumlah konsumen yang sudah menjadi pelanggan tetap belum melakukan pembelian karena mungkin pertimbangan kondisi usaha yang tidak pasti.

Dia mencontohkan, salah satu konsumen lokal yang sebelumnya rata-rata melakukan pembelian minimal 500 kg, kini hanya menyerap maksimal 150 kg. Itu pun dengan jangka waktu yang lama.

Sementara untuk serapan luar Bali yang tahun lalu hingga 3 ton sekali kirim, tahun ini belum melakukan order. Akuinya, kondisi tersebut membuat harga kopi kualitas bagus atau untuk honey process di tingkat petani yang sebelumnya seharga Rp 33.000 per kg akhirnya turun menjadi Rp 28.000 per kg.

“Kami serba susah. Sebab kalau kami tidak olah hasil panen, takutnya ketika ada permintaan kopi kami tidak punya barang, kami dibilang tidak komitmen berproduksi. Di sisi lain, jika kami olah dan simpan kopi hasil panen ini, kami juga tidak tahu apakah akan laku terjual atau tidak dan kalau pun terjual, harganya akan murah di tengah produksi yang melimpah,” keluhnya. *man

BAGIKAN