Denpasar (bisnisbali.com) – Kehadiran Fintech (Financial Technology) selama ini turut mengubah industri keuangan Indonesia yang dipandang jauh lebih menguntungkan. Adanya Fintech membuat siapapun memiliki peluang memperoleh dana tunai lewat pengajuan online secara cepat. Namun, di balik itu pinjaman online juga memiliki risiko dan sanksi jika tidak membayar sebagaimana pinjaman Bank. Apa saja risiko dan sanksinya? Berikut sejumlah ulasan yang bisa menjadi perhatian.

  1. Hutang Terus Membengkak

Kalau kamu berpikir berhutang di pinjaman online jauh lebih aman karena proses pengajuan KTA online sehingga jika tidak bayar data kamu akan hilang, itu salah besar. Justru dalam pinjaman online, denda dan bunga tetap berjalan semestinya. Artinya, semakin lama kamu menunggak, jumlah tagihan juga semakin membengkak. Sedangkan untuk denda, jika dijumlahkan harus sebesar 100 persen dari jumlah pinjaman. Artinya, kalau kamu meminjam Rp2 juta, maka dana yang harus dikembalikan ke pihak pinjol adalah Rp4 juta dalam tempo 90 hari.

  1. Data Pribadi Tersebar

Risiko dan sanksi berikutnya yang mengancam nasabah pinjol yakni data pribadi bisa tersebar. Ini terjadi karena saat mengajukan KTA online di aplikasi Fintech, calon nasabah akan diminta memberikan informasi data pribadi. Bahkan beberapa pinjol ilegal biasanya menggunakan data-data pribadi sebagai ancaman untuk nasabah yang menunggak. Mereka tidak segan menyebarkan ke semua daftar kontak pada  smartphone kamu. Jika kamu mengalami hal ini, langsung laporkan Fintech ilegal tersebut ke pihak yang berwajib. Namun, supaya tidak mengalaminya, sebaiknya kamu meminjam di Fintech yang sudah terdaftar di OJK seperti aplikasi Tunaiku.

  1. Bunga Pinjaman Tinggi

Bukan hal aneh kalau bunga pinjaman online dibilang tinggi. Hingga sekarang, OJK tidak mengatur soal batasan bunga pinjaman online. Tingginya suku bunga diserahkan kepada perusahaan pinjaman online. Namun, perusahaan pinjaman online mempunyai alasan kenapa menerapkan bunga tinggi, salah satunya karena tingginya risiko nasabah online, kemudahan persyaratan dan kecepatan persetujuan pengajuan pinjaman.

  1. BI Checking Memburuk

Dalam pinjaman online data pribadi digital memang menjadi jaminan dari reputasi nasabah yang merupakan pengganti dari jaminan agunan seperti pinjaman di bank. Risikonya kalau kamu menunggak atau bahkan gagal membayar, data pribadi digital bisa memburuk. Bahkan pihak pinjol berhak melaporkan data pribadi nasabah tak bertanggung jawab itu ke OJK dan OJK akan memproses daftar orang dengan kredit bermasalah itu yang membuat penilaian BI Checking memburuk. Ketika BI Checking jadi memburuk, maka akan dipastikan kesulitan dalam mengajukan pinjaman di Fintech lain hingga tak bisa disetujui dalam proses KPR (Kredit Pemilikan Rumah), pengajuan cicilan kendaraan bermotor sampai kartu kredit.

  1. Didatangi Tukang Tagih atau Debt Collector

Kalau kamu dengan sengaja tidak membayar tagihan pinjaman, maka harus siap dengan segala risikonya termasuk penagihan melalui debt collector. Adanya tukang tagih ini memang dilakukan oleh Fintech setelah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga di luar perusahaan. Penagih akan mendatangi kediaman pribadi kamu, bahkan sampai mendatangi lokasi kerja. Tentu saja ini bisa bikin kamu malu.

Itulah beberapa risiko dan sanksi tidak membayar pinjaman online. Jadi selalu usahakan untuk membayar hutang pinjaman tepat waktu ya. Salah satu aplikasi pinjaman online OJK yang terpercaya adalah Tunaiku. Tunaiku adalah fintech KTA online terpercaya dengan banyak ulasan positif tentang layanan yang telah merasakan mudahnya meminjam uang secara online. Keamanan, kemudahan dan jangkauan kerja yang luas menjadikan Tunaiku unggul sebagai sumber utama pinjaman terpercaya di Indonesia. Kamu bisa menggunakan Tunaiku ini untuk kebutuhan pinjaman dana yang cepat dan mudah. *rah

BAGIKAN