Perekonomian tetap Tumbuh di masa Covid-19

Covid-19 telah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara sehingga menurunkan tingkat kepercayaan investor.

Denpasar (bisnisbali.com) –Covid-19 telah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara sehingga menurunkan tingkat kepercayaan investor. Penurunan tingkat kepercayaan itu tercermin dari terjadinya modal keluar (capital outflow) dari banyak negara, khususnya negara terdampak sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan nilai tukar (depresiasi).

“Depresiasi akan memberatkan nilai impor karena importir harus membayar barang impor dengan nilai yang lebih mahal. Di sisi lain, depresiasi yang seharusnya memacu ekspor, pada kondisi saat ini tidak terjadi karena kondisi perekonomian dunia yang kurang menguntungkan,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, M. Setyawan Santoso.

Pengamat ekonomi BI ini menjelaskan di dalam negeri, covid-19 telah memaksa diberlakukannya kebijakan program tinggal di rumah (stay at home), bekerja dari rumah (work from home), jaga jarak hindari keramaian (phisical distancing), hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Penerapan kebijakan tersebut menyebabkan terhambatnya kegiatan produksi dan distribusi sehingga menimbulkan perlambatan kinerja di berbagai sektor pada perekonomian domestik.

Menurunnya kinerja perekonomian domestik ditambah dengan kondisi ekspor impor yang melambat menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi bahkan hingga mencapai pertumbuhan negatif.

Emsan biasa ia disapa mengungkapkan berdasarkan penelitian IMF, sebagaimana dilansir dalam The Economist Intelligence Unit, covid-19 telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara negara menurun antara +2,1 persen hingga -7 persen. Di antara negara negara tersebut, hanya 3 negara yang diperkirakan masih tumbuh positif yaitu India, Tiongkok dan Indonesia.

India dikenal sebagai negara besar telah mengalami perlambatan di sektor industri, namun telah memiliki struktur perekonomian yang seimbang. Tiongkok dikenal sebagai negera besar dengan teknologi kesehatan canggih.

Bagaimana dengan Indonesia?. Kata dia, di lihat dari struktur perekonomian, berdasarkan data Badan Pusat Statistik edisi 5 Februari 2020, struktur perekonomian Indonesia bertumpu pada permintaan domestik yaitu konsumsi swasta (56,6 persen), konsumsi pemerintah (1,3 persen), Investasi (32 persen). Sementara itu permintaan luar negeri (ekspor dan impor) memegang peranan masing masing 18,4 persen dan 18,9 persen.
“Memang depresiasi akan memberatkan sektor industri khususnya yang memakai bahan baku impor untuk produk yang dikonsumsi domestik,” jelasnya.

Di sisi lain, ekspor juga terkendala oleh adanya penurunan permintaan dari negara negara mitra dagang. Namun karena kontribusi eksternal dalam struktur perekonomian, maka terjadinya krisis atau ketidak seimbangan eksternal termasuk depresiasi tidak akan berdampak signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Covid-19 telah mengancam kinerja sektor industri dari berbagai sisi. Dari sisi bahan baku terjadi peningkatan biaya. Dari sisi proses produksi, terjadi hambatan terkait program jaga jarak dan PSBB. Dari sisi pemasaran terjadi penurunan akibat menurunnya daya beli masyarakat.

“Untunglah pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal senilai Rp 401,5 triliun untuk menyelamatkan sektor industri agar terhindar dari PHK dan menyelamatkan sektor informal dari kekosongan pendapatan agar terhindar dari kemiskinan,” jelasnya.
Diakui tidak semua negara dapat mengeluarkan stimulus fiskal karena terkendala oleh keterbatasan pembiayaan. Bagi Indonesia, kendala tersebut teratasi dengan masih adanya keleluasaan ruang fiskal bagi tambahan pengeluaran yang bersifat strategis dan mendesak. Secara hukum keleluasaan tersebut diperkuat dengan dikeluarkannya Perppu no 1 tahun 2020 yang memberik kelonggaran defisit anggaran pemerintah dari 2 persen menjadi 3 persen. Kendala menyalurkan pembiayaan juga terkendala pada kestabilan moneter mengingat kebijakan penambahan pengeluaran pemerintah (ekspansi fiskal) membawa dampak kenaikan inflasi. Namun sekali lagi, Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk inflasi mengingat laju inflasi selama beberapa tahun terakhir ini cukup rendah yang pada bulan Maret 2020 hanya mencapai 2,96 persen (yoy).

“Artinya, stimulus fiskal diyakini akan menahan perlambatan kinerja perekonomian hingga tidak sampai tumbuh negatif, di sisi lain inflasi masih berada pada level yang terjaga,” ucapnya.*dik

BAGIKAN