Perekonomian Bali Mulai Berdenyut

Kebijakan pelonggaran pembatasan sosial membawa pengaruh kepada mobilitas masyarakat di Bali yang sudah mulai meningkat, terutama di pusat perbelanjaan dan area umum.

KUTA - Wisatawan domestik menikmati panorama Pantai Kuta. Kedatangan wisatawan domestik menjadi salah satu faktor perbaikan ekonomi Bali. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Kebijakan pelonggaran pembatasan sosial membawa pengaruh kepada mobilitas masyarakat di Bali yang sudah mulai meningkat, terutama di pusat perbelanjaan dan area umum. Kendati demikian, peningkatan mobilisasi masyarakat ini harus diimbangi dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat guna mencegah penyebaran Covid-19.

“Peningkatan mobilitas masyarakat ini merupakan sinyal kembali berdenyutnya perekonomian di Provinsi Bali,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI), Trisno Nugroho di Denpasar, Senin (7/12).

Ia pun mengatakan, bila dibandingkan dengan provinsi lain, indeks mobilitas di Bali termasuk tinggi. Oleh karena itu, prokes jangan sampai kendor diterapkan dalam upaya mencegah terjadinya penyebaran kembali virus Corona. Prokes yang diterapkan mulai dari mencuci tangan, memakai masker, hingga menjaga jarak dengan orang lain. Termasuk mendukung imbauan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mendorong masyarakat untuk mematuhi arahan melakukan 3T, yaitu testing atau pemeriksaan, tracing atau penelusuran, dan treating atau perawatan guna mempercepat penyembuhan dan penanganan Covid-19.

Lebih lanjut Trisno menyebutkan terkait mobilitas, kebijakan penutupan penerbangan membawa dampak mendalam terhadap arus kedatangan wisatawan. Pembukaan pintu bagi wisatawan domestik disertai upaya promosi, penerapan prokes dan keberadaan libur panjang mulai berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan domestik ke Bali. Meskipun demikian, angka kedatangan wisatawan domestik ke Bali pada Januari hingga November sebesar -66,34 persen. Sedangkan angka kedatangan wisatawan luar negeri merosot hingga -80,36 persen.

Menurunnya kedatangan wisatawan ke Bali, diakuinya, berdampak langsung pada kinerja sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Bali. Pertumbuhan  ekonomi Bali tahunan menurun mulai dari -1,17 persen di triwulan 1, kemudian -11 persen di triwulan 2 dan -12,2 persen di triwulan ketiga tahun 2020.

Pertumbuhan ekonomi Bali menjadi pertumbuhan teredah di Indonesia. Sebanyak 12 provinsi yang merupakan penyumbang 67 persen pendapatan nasional pada triwulan III 2020, mengalami laju pertumbuhan di bawah angka pertumbuhan nasional -3,49 persen. Pariwisata merupakan sektor yang paling dalam terkena dampak Covid- 19 dan terkena dampak paling mendalam. “Namun terdapat secercah harapan dimana pada triwulan ke 3, pertumbunan Bali secara triwulanan tumbuh 1,66 persen,” paparnya.

Perbaikan ini dipacu oleh tiga hal. Pertama, kedatangan wisatawan domestik ke Bali. Kedua, berlanjutnya proyek proyek swasta dan pemerintah yang sempat terhenti selama 3 sampai 6 bulan di awal pandemi Covid-19. Ketiga, meningkatnya belanja pemerintah termasuk dalam rangka penanganan Covid- 19 di Bali.*dik

BAGIKAN