Perajin Topeng di Denpasar, Seimbangkan ’’Ngayah” dan Bisnis

Bali merupakan pulau di Indonesia yang menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata.

Denpasar (bisnisbali.com) – Bali merupakan pulau di Indonesia yang menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata. Tak hanya tempat wisata di Bali yang terdampak akibat pandemi Covid-19, para perajin juga ikut kena imbasnya. Tapi lain halnya dengan I Made Dwipayana Satria, perajin topeng di Jalan Setia Budi, Denpasar.

“Selama pandemi Covid-19 yang sudah hampir satu tahun berjalan, astungkara orderan yang masuk masih tetap ada. Untuk pembuatan topeng yang saya jalani, selama ini kebanyakan dari pesanan order dan di samping itu saya juga kebanyakan mengambil pesanan topeng sakral,” katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya memulai pembuatan topeng pada tahun 2014. Ia pertama belajar dari ngodakin atau memperbaharui cat. Dari sanalah ia mulai tertarik belajar teknik mengecat topeng. “Kebanyakan saya belajar otodidak dari melihat dan bertanya kepada orang yang sudah senior. Kenapa saya memilih untuk menjadi perajin topeng karena basic saya juga adalah seorang penari, di samping itu juga saya punya sesuhunan dan warisan topeng,” ujar Dwipayana.

Dia kembali menyebutkan, tujuan awal pihaknya belajar membuat topeng sebenarnya hanya untuk bisa memperbaiki topeng yang dimilikinya. Tapi lama kelamaan cukup banyak temannya yang minta bantuan untuk dibuatkan topeng. Mulai di sanalah dia berpikir untuk menjadikannya lahan bisnis.

“Tapi, ada yang khusus untuk dibisniskan ada juga yang saya lakukan dengan ngayah (sukarela). Kalau masalah yang khusus untuk bisnis itu misalkan kayak orang membuat topeng yang akan dipakai untuk pementasan yang sifatnya dibayar, saya pasti mematok harga. Tapi kalau untuk sesuhunan di pura, gedong suci, kalau sudah dipakai untuk dilinggihkan atau disakralkan, saya hanya meminta harga untuk modal saja. Tidak mencari keuntungan, tergantung nanti berapa yang diberikan seikhlasnya sebagai sesari kepada saya sebagai ongkos jerih payah. Kalau saya merasa sesari yang dikasih itu terlalu banyak, saya akan kembalikan lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menceritakan, saat pandemi Covid-19 banyak rekannya yang bekerja di pariwisata yang dirumahkan. Mereka inilah yang kemudian diajaknya bekerja baik menghaluskan topeng maupun mengecat. Dengan cara itu, selama pandemi pihaknya juga ikut membantu teman-temannya yang kehilangan pekerjaan.

Dengan begitu banyaknya pembuat topeng, produk yang dihasilkannya tentu harus dan telah memiliki ciri khas. Ciri khas topeng buatannya yaitu bebadungan. “Bebadungan itu apa? Kalau di rangda, giginya itu agak pendek. Itu bedanya. Saya juga ingin melestarikan di daerah saya sendiri ciri khas bebadungan,” katanya.

Untuk pembuatan satu topeng lama pengerjaannya tergantung bahan dan kerumitan lekuk topeng. Kalau bahannya dari kayu jepun, prosesnya bisa sampai dua bulan untuk satu topeng rangda. “Kalau bahannya dari kayu pule, ya cukup pengerjaannya dua minggu untuk topeng-topeng bebondresan,” ungkap Dwipayana Satria.

Untuk bahan yang masuk kategori bagus adalah kayu pule, jepun, kepah, kepuh, sandat, dadap wong dan bintaro. Bahan yang banyak digunakan berupa kayu pule sebab kayunya lebih soft, seratnya halus dan gampang dibentuk. “Kalau topeng yang saya jual, saya mematok harga dari Rp 350 ribu sampai Rp 5 juta. Tergantung dari kerumitan dan hiasannya, apalagi ada yang memakai emas pasti harganya lebih mahal,” ucapnya. *suk

BAGIKAN