Per Tahun, 300 Hektar Lahan Sawah Terdampak Serangan OPT

Dalam tiga tahun terakhir, luas sawah yang terdampak serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di Kabupaten Tabanan cukup tinggi yaitu lebih dari 300 hektar per tahun.

TIKUS - Sejumlah lahan pertanian padi di Kabupaten Tabanan terdampak serangan hama tikus.

Tabanan (bisnisbali.com)  –Dalam tiga tahun terakhir, luas sawah yang terdampak serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di Kabupaten Tabanan cukup tinggi yaitu lebih dari 300 hektar per tahun. Itu tercermin dari klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang rata-rata mencapai Rp 2 miliar per tahun pada periode yang sama.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan I Gusti Putu Wiadnyana mengungkapkan, tiga tahun berturut-turut klaim AUTP di Tabanan cukup tinggi yakni Rp 2 miliar per tahun. Jika dibagi Rp 6 juta per hektar untuk klaim lahan gagal panen yang telah diasuransikan, setidaknya 300 hektar luas lahan sawah yang terdampak serangan OPT.

“Luasan yang terdampak itu hitungannya baru untuk padi yang puso saja. Belum termasuk dampak OPT yang menimbulkan kerusakan padi dengan kategori gagal total, berat dan skala sedang. Jadi, ada kemungkinan dampak OPT lebih luas lagi,” tuturnya, Rabu (5/5) kemarin.

Tingkat serangan OPT yang tinggi membuat masyarakat di Desa Bedha melaksanakan upacara ngaben bikul atau upacara Mreteka Merana pada Rabu (5/5) lalu. Ngaben bikul ini sebelumnya rutin dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bedha setiap 10 tahun sekali yang bertujuan membersihkan hama tanaman. Salah satunya tikus yang menjadi OPT dominan penyebab kerusakan pada lahan pertanian padi di Tabanan selama ini.

Dijelaskannya, penyebab meningkatnya serangan OPT khususnya tikus pada kurun waktu tiga tahun terakhir dipicu oleh banyak faktor. Di antaranya pengaturan pola tanam padi  yang terlalu mepet, sehingga memberi andil bagi terus berlanjutnya siklus serangan tikus. Selain itu, disebabkan oleh faktor iklim dan kurang intensifnya upaya pengendalian hama yang dilakukan petani dengan metode penggropyokan lahan.

Pembangunan perumahan yang kian masif dan berlokasi mepet dengan areal persawahan juga memberi andil bagi ancaman serangan hama tikus. “Pada saat tidak ada pertanaman, tikus bisa berpindah ke permukiman sebagai tempat yang aman untuk berlindung dan kembali ke sawah ketika terjadi pertanaman padi,” ujarnya.

Menurut Putu Wiadnyana, jika dihitung kehilangan produksi gabah yang disebabkan oleh serangan OPT, ada potensi hingga 180 ton per tahun. Hitung-hitungannya adalah dari klaim AUTP Rp 2 miliar dengan luasan yang terdampak sekitar 300 hektar lebih dikalikan dengan enam ton gabah per hektar rata-rata produktivitas padi selama ini. *man

BAGIKAN