Penurunan Pendapatan dan Pengeluaran Picu Kemiskinan

Penurunan pendapatan masyarakat Bali yang sebagian besar bekerja di sektor pariwisata secara tidak langsung akan berpengaruh kepada kondisi sosial mereka.

Denpasar (bisnisbali.com) –Penurunan pendapatan masyarakat Bali yang sebagian besar bekerja di sektor pariwisata secara tidak langsung akan berpengaruh kepada kondisi sosial mereka.
“Penurunan pendapatan ini akan diikuti oleh penurunan pengeluaran, sehingga makin banyak penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan,” kata Kepala kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Renon, Selasa (21/7) kemarin.

Menurutnya berdasarkan hasil survai BI mencerminkan jika covid-19 berdampak ada penurunan pendapatan masyarakat (88 persen responden). Adapun penurunan pendapatan ini direspons oleh penurunan pengeluaran. Lebih dari 50 persen responden menurunkan pengeluaran sebanyak 20-50 persen.
Bercermin dari survai tersebut, BI Bali menilai agar dapat menekan peningkatan masyarakat di garis kemiskinan salah satunya dengan menjaga tingkat inflasi barang, baik bahan makanan maupun nonmakanan. “Hal ini agar garis kemiskinan tidak meningkat, sehingga masyarakat yang saat ini berada di atas garis kemiskinan (tidak miskin) tidak berpindah status menjadi miskin,” ujarnya.

Selain itu pada masa pandemi ini, social safety net dan pemulihan ekonomi dari pemerintah terus dilaksanakan untuk menahan laju peningkatan tingkatan kemiskinan. Ditambah lagi, kata Trisno, program binaan UMKM dan jiwa kewirausahaan bagi semua masyarakat. Ini sangat relevan diterapakn di tengah kondisi saat ini, karena program ini meningkatkan kapabilitas UMKM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam bertahan dalam situasi pandemi, sekaligus melihat potensi percepatan pemulihan. Hal ini pada tahap selanjutnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan UMKM dan masyarakat luas sehingga dapat menekan angka kemiskinan. “Namun hal ini bersifat menengah panjang,” jelasnya.

Sementara itu wanita pengusaha Bali Dr. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda mengatakan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi covid-19 rentan meningkatkan kemiskinan jika tidak punya kreatifitas, inovasi dan adaptasi. Oleh karena itu, upaya yang bisa dilakukan harus mampu melihat peluang di dalam situasi saat ini. “Sebenarnya tantangan dan peluang garis lurus posisinya jika SDM-nya punya kekuatan KIA tersebut,” paparnya.
Gung Tini pun berharap peran pemerintah harus menguatkan dengan regulasi dan intervensi agar betul-betul belanja pemerintah dalam transisi era baru kepada UMKM.*dik

BAGIKAN