Pengunjung Warung Pak Ada Mulai Ramai

SEMUA sektor usaha mengalami penurunan omzet selama pandemi Covid-19.

Wayan Ada (kiri) dan Ketut Sukanata

SEMUA sektor usaha mengalami penurunan omzet selama pandemi Covid-19. Demikian halnya kuliner dengan olahan utama ikan. Sempat terpuruk, usaha kuliner ini mulai berangsur-angsur bangkit dan berinovasi.

Seperti diungkapkan pemilik Warung Makan Pak Ada, Sanur, Wayan Ada dan Ketut Sukanata, di awal pandemi sempat mengalami penurunan omzet hingga 60 persen. Hal itu diakibatkan anjloknya daya beli masyarakat. Namun sekarang pihaknya sudah bisa kembali optimis, mengingat sudah terjadi peningkatan jumlah pengunjung.

“Bisnis yang didirikan sejak Mei 2011 ini memiliki pangsa pasar yang dominan adalah domestik. Dari berbagai macam kalangan pernah menikmati olahan ikan di sini. Mulai dari perkantoran, pejabat sampai artis pun sempat makan di sini. Kami tetap utamakan kualitas rasa dan bahan dasar yang digunakan. Walaupun sempat mengalami penurunan, bukan berarti harus mengurangi cita rasa yang sudah ada. Karena hal tersebut merupakan ciri khas yang harus dijaga,” ujar Sukanata.

Jenis ikan yang digunakan adalah ikan jangki, cakalan dan barakuda. Pemasoknya juga selalu siap. Sebelum dimasak, ikan yang datang selalu dicek terlebih dahulu. Jadi, jaminan kualitas ikan yang didapatkan terkontrol dan masih segar. Kendala jarang terjadi, bergantung pada cuaca saja.

Di saat pandemi seperti ini, dengan adanya pembatasan aktivitas, promosi pun dilakukan sepenuhnya dengan online. Melalui media sosial pihaknya menyebarkan informasi mengenai menu yang tersedia dan jam operasional yakni pukul 08.00 – 19.00 Wita, sesuai anjuran pemerintah.

“Mengenai anjuran pemerintah yang terkait dengan penerapan protokol kesehatan di tempat usaha juga sudah kami terapkan dengan baik. Fasilitas cuci tangan sudah disediakan, hand sanitizer di setiap meja, penerapan jaga jarak dan wajib menggunakan masker. Saat makan, maskernya dibuka dan setelah makan dipakai kembali. Kami juga akan memberikan imbauan bagi yang melanggar prokes, karena hak tersebut untuk kebaikan bersama,” lanjutnya.

Strategi yang terpaksa dilakukan agar mampu menutupi biaya operasional adalah dengan mengurangi jumlah pegawai. Saat ini, hanya ada tujuh pegawai yang bekerja. Pihaknya pun berharap situasi cepat membaik, sehingga dapat mempekerjakan lagi para pegawai. *git

BAGIKAN