Pengawasan Peternak Babi Diintensifkan


Hingga kini di Kabupaten Tabanan belum ditemukan kasus kemunculan virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi. Meski begitu, Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pertanian (Distan) telah mengintensifkan pengawasan ke tingkat peternak babi. Untuk apa?


PENGAWASAN tersebut khususnya menyasar kalangan peternak yang memanfaatkan pakan dari limbah (sisa makanan) hotel maupun usaha katering.

“Kami sudah melakukan sosialisasi dan mengintensifkan pengawasan kepada peternak babi, khususnya yang menggunakan pakan limbah hotel maupun usaha katering untuk pakan,” tutur Kasi Keswan Distan Kabupaten Tabanan, Drh. Ni Nengah Pipin Windari, Kamis (19/12) kemarin.

Terangnya, saat ini dari pendataan populasi babi di Kabupaten Tabanan tercatat mencapai 75.625 ekor dengan jumlah pelaku usaha (peternak) mencapai ratusan pada 2019. Dibandingkan dengan 2018, jumlah populasi babi di Kabupaten Tabanan pada tahun ini mengalami penurunan, mengingat tahun sebelumnya populasi babi mencapai 94.348 ekor. Prediksinya, penurunan populasi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya, makin mahalnya biaya produksi yang disumbang oleh harga pakan.

Jelas Pipin, dari ratusan peternak tersebut, ada tiga peternak di Kabupaten Tabanan yang memanfaatkan limbah hotel untuk pakan. Dua ada di Kecamatan Marga, satu di Kecamatan Kediri. Terkait itu, pihaknya sudah datangi dan berikan penjelasan kepada peternak bersangkutan, bahwa makanan limbah yang digunakan untuk pakan babi agar direbus dengan suhu 70 derajat celcius, tujuannya untuk mematikan virus ASF.

Sambungnya, pengawasan terhadap peternak yang memanfaatkan pakan limbah ini menjadi sangat penting dilakukan, mengingat proses penularan virus ASF terjadi melalui makanan atau sampah yang mengandung partikel virus ASF, termasuk juga dapat ditularkan melalui pemberian pakan sisa hotel dan restauran yang terinveski virus. Selain itu, virus ASF ini juga dapat ditularkan melalui kontak fisik antara babi terinfeksi dengan babi sehat.

“Terkait itu pula, kami juga sudah mengimbau para peternak untuk waspada dengan menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sesuai instruksi dari pusat dan Pemprov Bali,” ujarnya.

Sementara itu, tambahnya, selama ini populasi ternak babi di Bali tidak saja untuk memenuhi kebutuhan di tingkat lokal, beberapa juga memenuhi permintaan pasar untuk antarpulau. Di antaranya, Jakarta, dan Surabaya. Diakuinya, saat ini permintaan babi untuk pasar antarpulau mengalami penurunan, namun kondisi tersebut bukan disebabkan oleh menurunnya tingkat konsumsi daging babi pascamerebaknya virus ASF, tetapi kondisi itu disebabkan oleh harga babi yang berlaku di luar Bali hampir sama dengan di tingkat lokal saat ini. *man/editor rahadi

BAGIKAN