Penerimaan Cukai Diprediksi Meningkat

Kanwil Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Bali, NTB dan NTT mencatat, realisasi penerimaan tahun anggaran 2020 mencapai Rp 1,391 triliun atau mencapai 137,56 persen dari target penerimaan tahun anggaran 2020 di kisaran Rp 1,010 triliun.

PETI KEMAS – Aktivitas peti kemas di Pelabuhan Benoa. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Kanwil Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Bali, NTB dan NTT mencatat, realisasi penerimaan tahun anggaran 2020 mencapai Rp 1,391 triliun atau mencapai 137,56 persen dari target penerimaan tahun anggaran 2020 di kisaran Rp 1,010 triliun. Kepala Kanwil Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Bali, NTB dan NTT yang diwakili oleh Kasi Penerimaan dan Pengolahan Data, Irwan Riyadi, di Renon, Senin (18/1), mengatakan, realisasi penerimaan tersebut terbagi atas beberapa bagian.

Disebutkannya, bea masuk dari target Rp 200,9 miliar, realisasinya mencapai Rp 219,8 miliar atau 109,39 persen. Bea keluar yang ditargetkan Rp 89,5 miliar, terealisasi Rp 438,1 miliar atau 489,24 persen. Sementara, dari cukai targetnya Rp 720,4 miliar dan terealisasi Rp 733,5 miliar atau pencapaiannya 101, 83 persen.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan strategi optimalisasi penerimaan di 2021 untuk Kanwil Bali, NTB dan NTT. Terlebih lagi berdasarkan postur APBN 2021, penerimaan kepabeanan dan cukai tahun ini diproyeksikan meningkat 4,5 persen seiring dengan kondisi perekonomian domestik yang mulai membaik serta menggeliatnya perekonomian global. Penerimaan cukai diperkirakan tumbuh 4,5 persen seiring dengan penertiban peredaran barang kena cukai ilegal serta ekstensifikasi barang kena cukai baru.

Tidak hanya itu, bea masuk diproyeksikan tumbuh 4,2 persen seiring peningkatan aktivitas impor dan bea keluar ditargetkan tumbuh 8,1 persen sejalan dengan pulihnya ekonomi global dan tren kenaikan harga komoditas unggulan. Terkait hal tersebut, pihaknya menyebutkan optimalisasi penerimaan yang dilakukan yaitu untuk bea masuk dengan merekomendasikan adanya kegiatan angkut lanjut dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara I Gusti Ngurah Rai atas barang impor yang akan digunakan di wilayah Bali.

Pihaknya juga melakukan koordinasi terkait optimalisasi rencana impor perusahaan besar seperti PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) dan PLN (persero). Merekomendasilkan adanya kegiatan angkut lanjut atas impor barang keperluan tambang PT AMNT yang diimpor melalui Surabaya agar dapat diselesaikan kewajiban kepabeanannya di KPPBC Sumbawa. Termasuk, mengoptimalkan penerimaan Bea Masuk Impor Raw Sugar oleh PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Sumbawa.

Dari sisi bea keluar, kata dia, dengan melakukan koordinasi dengan PT AMNT sebagai penyumbang bea keluar terbesar di wilayah Kanwil BNN terkait optimalisasi rencana ekspor tahun 2021. Sementara dari cukai dengan pemberian fasilitas penundaan cukai, peningkatan kecepatan pelayanan kepada pengguna jasa (penyediaan pita cukai, distribusi pita cukai), dibentuknya klinik cukai, optimalisasi pengawasan untuk mencegah BKC ilegal dan mendorong pengusaha pabrik MMEA agar dapat memperluas wilayah pemasarannya di luar Bali dan Nusa tenggara. Termasuk berkoordinasi dengan Badan POM terkait perizinan MMEA merk baru. *dik

BAGIKAN