Penerbangan SA ke Bali Ditunda, Pengelola Destinasi Wisata Kecewa

Penundaan penerbangan maskapai Singapore Airlines (SA) ke Bali pada 4 Mei 2021 menimbulkan kekecewaan sejumlah pengelola destinasi wisata di Kabupaten Tabanan.

TANAH LOT – Kunjungan wisatawan di DTW Tanah Lot saat air laut surut.

Tabanan (bisnisbali.com) –Penundaan penerbangan maskapai Singapore Airlines (SA) ke Bali pada 4 Mei 2021 menimbulkan kekecewaan sejumlah pengelola destinasi wisata di Kabupaten Tabanan. Betapa tidak, sebelumnya rencana kedatangan wisatawan menggunakan penerbangan SA tersebut digadang-gadang mampu mendongkrak angka kunjungan, namun itu akhirnya pupus.

Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, mengungkapkan penundaan penerbangan SA ke Bali cukup mengecewakan pihaknya. Sebab, sebelumnya kedatangan penerbangan SA diyakini berdampak pada terdongkraknya jumlah kunjungan ke objek wisata mengandalkan keindahan pura di tengah laut ini. “Penundaan itu membuat kami sedih dan kecewa. Mungkin penundaan ini didasari perkembangan Covid-19 di dunia dan sebagai upaya pemerintah menjaga keselamatan warganya,” katanya, Senin (3/5) kemarin.

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih sangat berdampak pada penurunan omzet atau pendapatan. Bahkan, pihaknya kehilangan pendapatan hingga 99 persen per bulan dibandingkan rata-rata pendapatan saat kondisi normal. Pada kondisi normal (sebelum pandemi) pendapatan yang mampu dikantongi DTW Tanah Lot mencapai Rp 6-7 miliar per bulan atau rata-rata Rp 350-400 juta per hari. “Kini kami rata-rata mengantongi pendapatan Rp 350 juta per bulan, itu pun sangat susah. Sebab, jumlah tamu atau wisatawan yang datang turun tajam,” ujarnya.

Kondisi pendapatan yang minim membuat DTW Tanah Lot tidak bisa menutupi biaya operasional selama pandemi ini. Sebab, selain pendapatan jauh menurun, total pendapatan tersebut masih harus dibagi. Salah satunya 10 persen pendapatan DTW Tanah Lot disetorkan ke Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Saat ini rata-rata jumlah kunjungan wisatawan ke DTW Tanah Lot berkisar 200-300 orang per hari pada awal pekan dan mencapai 400-500 orang per hari pada akhir pekan. Pengunjung sebagian besar wisatawan lokal atau domestik dan sebagian kecil wisatawan mancanegara (wisman) yang mengantongi Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas).

Hal senada diungkapkan Ketua Perkumpulan Daya Tarik Wisata (PDTW) Ulun Danu Beratan, I Wayan Mustika. Pihaknya memahami kebijakan pemerintah yang menunda penerbangan SA ke Bali karena pertimbangan Covid di dunia, tapi tetap merasa kecewa dan tidak bisa berbuat banyak menyikapi kondisi tersebut.

Ia berharap di tengah menurunnya pendapatan karena dampak pandemi, pemerintah membantu khususnya meringankan biaya operasional yang tetap harus dianggarkan untuk menjaga kawasan. Ketika kondisi normal, pihaknya selalu berkontribusi untuk pendapatan daerah. Kini, saat PDTW  Ulun Danu Beratan minim mengantongi pendapatan, belum ada bantuan dari pemerintah ke objek wisata yang mengandalkan keindahan danau ini. “Saat ini rata-rata angka kunjungan wisatawan ke Ulun Danu Beratan hanya 25-50 orang per hari. Sangat jauh menurun dibandingkan kondisi sebelumnya,” keluhnya. *man

BAGIKAN