Penerbangan ke LN Ditutup, Eksportir Manggis Bali Pilih Jalur Laut

Di tengah kembali pulihnya permintaan akan manggis di pasar ekspor Tiongkok dari wabah virus Corona, kini eksportir manggis di Bali menghadapi masalah baru dengan ditutupnya layanan pengiriman melalui udara ke luar negeri (LN).

Tabanan (bisnsibali.com) –Di tengah kembali pulihnya permintaan akan manggis di pasar ekspor Tiongkok dari wabah virus Corona, kini eksportir manggis di Bali menghadapi masalah baru dengan ditutupnya layanan pengiriman melalui udara ke luar negeri (LN). Menyikapi itu, kini eksportir pilih pengiriman jalur laut, meski membutuhkan waktu lama dan berdampak menurunnya kualitas barang.
Direktur PT., Bagus Segar Utama sekaligus eksportir manggis, I Wayan Artika, di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan Tabanan, Senin (30/3) mengungkapkan, saat ini sebenarnya potensi ekspor manggis ke Tiongkok cukup besar seiring dengan telah pulihnya ekonomi di Negara Tirai Bambu ini dari wabah virus Corona. Itu tercermin dari awalnya yang hanya meminta pengiriman manggis 200-300 keranjang per hari, sekarang ini sudah naik menjadi 2.000-3.000 keranjang per hari. Imbuhnya, itu juga sejalan dengan apresiasi pasar pada produk manggis dari PT., Bagus Segar Utama yang dinilai memiliki kualitas baik oleh konsumen di Tiongkok saat ini.
“Sayangnya karena virus Corona yang mewabah di Indonesia, semua penerbangan ke LN di tutup. Padahal potensi untuk permintaan ekspor ke Tiongkok cukup besar saat ini,” tuturnya.
Menyikapi itu jelas Artika, sejak tiga kali pengiriman terakhir ke Tiongkok terpaksa memilih menggunakan jalur laut dengan rata-rata volume mencapai 2.200 keranjang per dua hari sekali. Akuinya, melalui jalur laut, waktu yang dibutuhkan tentu lebih lama dari pengiriman menggunakan jalur udara, karena dari waktu pengiriman dari Bali rata-rata membutuhkan 12-15 hari untuk sampai di Tiongkok, sehingga dari kualitas manggis yang dikirim juga menurun dibandingkan sebelumnya yang melalui jalur udara.
Sambungnya, menggunakan jalur laut ini juga berdampak pada harga jual yang dinilai oleh buyer. Paparnya, sebelumnya jika dengan pengiriman pesawat manggis dari Bali ini dihargai hingga Rp Rp 54 ribu per kg, sedangkan kini dengan jalur laut buyer menghargai manggis Bali ini dikisaran Rp 35.000-Rp 40.000 per kg. Akuinya, penurunan tersebut selain karena biaya lebih murah melalui laut, untuk kualitas manggis juga tidak sebaik sebelumnya karena terganjal  lamanya proses pengiriman.
“Buyer memang agak mengeluh terkait kualitas manggis dengan pengiriman jalur laut ini, namun mereka memaklumi dan masih bisa menjual kepasaran produksi manggis dari Bali ini, karena memang tidak ada pilihan,” tandasnya.
Sementara itu, akuinya terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kondisi tersebut memang cukup memberi angin segar di tengah melimpahnya jumlah produksi manggis di tingkat lokal seiring dengan musim panen raya yang terjadi saat ini. Meski begitu pihaknya justru berharap dengan kondisi mewabahnya virus Corona di Indonesia, nilai tukar rupiah harus bisa dikondisikan stabil. Sebab pertimbangannya, kurs rupiah yang melemah akan berdampak pada bergejolaknya harga barang impor dan juga buyer pun mengetahui, sehingga buyer juga menghargai produk ekspor dengan nilai yang tidak signifikan.*man
BAGIKAN