Pendidikan Karakter Penting Bagi Calon Guru

Pendidikan karakter memang harus dilakukan sejak dini, yang akan menjadi dasar bagaimana karakter seseorang ketika dewasa nanti.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pendidikan karakter memang harus dilakukan sejak dini, yang akan menjadi dasar bagaimana karakter seseorang ketika dewasa nanti. Lalu bagaimana bila seorang guru yang seharusnya digugu dan ditiru, tidak berbekal karakter yang baik dan malah menjerumuskan anak didiknya? Hal ini akan menjadi persoalan besar bagi generasi penerus bangsa. Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum., mengatakan calon guru harus diberikan pendidikan karakter lebih mendalam dibandingkan yang lainnya.

“Guru tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga mendidik anak. Menjadikan yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya salah diluruskan sehingga dia menjadi benar, membentuk karakter anak yang baik. Jadi dalam merekrut guru memang tidak boleh sembarangan,” papar Suarta saat ditemui di Rektorat IKIP PGRI Bali, Senin (24/2) kemarin.

Melihat fenomena belakangan banyak guru yang melakukan pelecehan terhadap anak didiknya, Suarta mengatakan semua bisa jadi berawal dari rekrutmen guru yang kurang tepat. “Sekarang kan rekrutmen guru bisa dikelompokkan dua, kelompok guru yang direkrut oleh pemerintah  berasal dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dan guru dari non LPTK. Kalau guru yang mengenyam pendidikan di LPTK, memang sejak awal digembleng menjadi calon guru sehingga benar-benar membentuk karakter seorang guru,” tandasnya.

Jadi disiplin di LPTK memang berbeda dengan disiplin di sekolah umum. “Mulai dari cara berpakaian, bicara kemudian tidak tanduk seorang. Bagaimana kita memberikan contoh karena karakter yang dibentuk adalah karakter seorang guru,   karakter orang tua kedua bagi siswa, ini yang dibentuk sehingga guru benar – benar menjadi guru yang berkualitas,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai seniman tersebut.

Suarta menegaskan, sebaiknya pemerintah meninjau kembali sistem perekrutan guru yang selama ini dari dua kelompok tersebut. “Sekarang sarjana dari nonkependidikan bisa menjadi guru dengan mengikuti pendidikan profesi guru 1 tahun. Mereka menjadi guru istana yang memang diperbolehkan oleh pemerintah. Saya kira di sini akar permasalahannya,” tukasnya.

Seorang guru yang lahir dari LPTK diyakini akan mampu mengayomi dan  menjadi seorang pendidik yang tidak bisa lepas dari karakter orang tua di rumah. Fenomena ini dikatakan tidak baik ke depan bagi seorang guru. Kasihan betul profesi guru yang bisa muncul ketidakpercayaan orang tua siswa kepada guru. Padahal sebenarnya guru itu kan yang patut digugu dan ditiru.

“Pemerintah juga sedang melakukan  proses-proses berkaitan dengan membentuk  karakter anak bangsa. Dan kami di IKIP PGRI Bali, sudah menanamkan karakter seorang guru itu sejak mahasiswa masuk kampus,” pungkasnya.*pur

BAGIKAN