Pendapatan Petani di Tabanan Meningkat di Tengah Pandemi Corona

Di balik wabah virus Corona (Covid -19) yang dibarengi juga dengan lonjakan harga sejumlah produk pertanian dipasaran, ternyata memberi angin segar bagi petani di Kabupaten Tabanan saat ini.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di balik wabah virus Corona (Covid -19) yang dibarengi juga dengan lonjakan harga sejumlah produk pertanian dipasaran, ternyata memberi angin segar bagi petani di Kabupaten Tabanan saat ini. Betapa tidak, lonjakan harga tersebut dibarengi juga dengan meningkatnya pendapatan, sehingga sejumlah petani didaerah lumbung pangan ini tengah bergairah saat ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Tabanan I Made Budana, Selasa (31/3) mengungkapkan, belakangan ini harga dari sejumlah produk pertanian produksi petani lokal rata-rata mengalami lonjakan dari biasanya. Semisal, jahe yang biasanya hanya dipasaran laku di kisaran Rp 10 ribuan, namun kini harganya bisa tembus mencapai Rp 40 ribuan. Imbuhnya, harga ini sekaligus jadi level tertinggi dari harga jahe yang pernah diperdagangkan selama ini.

Sambungnya, selain jahe dan umbi-umbian lainnya, saat ini di tingkat petani untuk sayur-sayuran juga berada dalam kondisi yang menguntungkan karena harganya naik saat ini. Akuinya, harga sejumlah hasil pertaian yang meningkat ini tentu membuat petani di Tabanan jadi bergairah untuk berusaha dan itu sekaligus menjadi cerminan keberhasilan dari pendampingan yang dilakukan dinas pertanian dalam rangka meningkatkan daya saing petani lokal, baik menyangkut peningkatan kualitas produksi hingga pendapatan petani lokal.

Di sisi lain jelas Budana, secara umum untuk ketersediaan bahan pangan di Kabupaten Tabanan dalam kondisi yang tercukupi saat ini. Salah satunya dicerminkan dari produksi beras yang masih dalam posisi surplus, bahkan belakangan ada kecendrungan dengan mulai meningkatnya panen dan pasokan gabah dari antarpulau ke Bali telah membuat harga gabah di Tabanan mengalami tren penurunan dari sebelumnya yang sempat menembus Rp 5.400 per kg di tingkat petani.

Peningkatan stok bahan pangan di pasar lokal ini, imbuhnya ditambah lagi dengan dialihkannya pasokan produksi petani yang sebelumnya terserap ke kalangan hotel dan restoran. Jelas Budana, kini dengan menurunnya tingkat kunjungan tamu dikalangan tersebut membuat sejumlah suplayer maupun pengepul mengalihkan penjualan ke pasar-pasar tradisional, sehingga itu akan menambah stok bahan pangan dipasaran.
Sementara itu, dari pantauan harga dilakukan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tabanan disejumlah pasar tradisional tercatat ada sejumlah bahan pangan yang mengalami lonjakan harga dan beberapa komoditi juga mengalami purunan per Senin, 30 Maret 2020.

Kabid Perdagangan, Ni Wayan Primayani memaparkan, awal minggu lalu yang juga merupakan pascapemberlakukan kebijakan pembatasan jam buka pasar tradisional tercatat ada sejumlah komoditi yang mengalami gejolak harga. Salah satu komoditi yang mengalami lonjakan harga tertinggi atau mencapai 67 persen adalah kol atau kubis. Yakni, dari Rp 6.000 menjadi naik Rp 10.000. Disusul bawang merah yang naik 52 persen dari Rp 33.000 per kg menjadi Rp 50.000 per kg.

“Lonjakan harga ini kemungkinan karena belum pilihnya distribusi pasokan dari antarpulau pascanyepi dan juga adanya kepanikan masyarakat, sehingga berbelanja dalam jumlah berlebih pascapembatasan buka pasar. Sebab itu, lonjakan harga ini kemungkinan akan kembali normal nantinya seiring pulihnya pasokan dari luar Bali,” kilahnya.*man

BAGIKAN