Pemulihan Ekonomi Bali Diyakini Berlanjut  

TETAP menjalankan protokol kesehatan (prokes) ketat diyakini pemulihan ekonomi Bali yang terjadi pada triwulan III ini akan kembali berlanjut pada triwulan IV 2020.

TETAP menjalankan protokol kesehatan (prokes) ketat diyakini pemulihan ekonomi Bali yang terjadi pada triwulan III ini akan kembali berlanjut pada triwulan IV 2020. Disiplin menerapkan prokes 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak di segala tempat dan kegiatan ekonomi terbukti efektif menekan berkembangnya pandemi Covid-19. Seperti apa?

BERSAMA-sama menjaga laju roda perekonomian di daerah merupakan kewajiban semua pihak agar tidak menjadi penyebab warga terpapar Covid-19. Selama virus corona belum ditemukan, mengubah gaya hidup serta mengedepankan pola hidup sehat agar terhindar dari penyebaran virus diyakini dunia usaha akan tumbuh dan pereknomian pun bisa bangkit.

Pemulihan ekonomi nasional pun akan sangat tergantung pada penanganan Covid-19 di daerah, terutama pada efektivitas implementasi penanganannya di masyarakat seperti ketataan masyarakat atau pelaku usaha dalam menjalankan prokes dengan disiplin, ketersediaan vaksin dan stimulus fiskal. Oleh karena itu, aturan prokes di masyarakat agar dipatuhi. “Penerapan aturan protokol kesehatan harus tegas agar masyarakat patuh sehingga jumlah terpapar Ccovid tidak bertambah,” kata pemerhati ekonomi dari Unhi, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M.Si.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Trisno Nugroho mengatakan, prokes ketat sangat penting bagi sektor ekonomi, terutama pariwisata di Bali ke depannya. Pemulihan ekonomi pada triwulan IV optimistis akan berlanjut seiring perkiraan membaiknya kondisi pariwisata, khususnya wisatawan domestik. Hal ini terkonfirmasi dari leading indicator jumlah kedatangan penumpang domestik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang tercatat 121.937 orang pada Oktober 2020  atau tumbuh 32,77% (mtm).

Optimisme pemulihan ini juga terkonfirmasi dari pengolahan big data google trends yang mencerminkan bahwa minat wisdom dan wisman ke Bali sangat besar. Pencarian travel di Bali tercatat lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia dan destinasi wisata lainnya di kawasan Asia. “Peluang ini harus dioptimalkan dengan tetap menjalankan prokes yang ketat, sehingga pemulihan aspek ekonomi dan kesehatan dapat berjalan secara pararel,” katanya.

Ia mengakui penerapan prokes yang ketat terbukti membawa pengaruh positif. Itu terlihat pada triwulan III 2020, perekonomian Bali mulai menunjukkan pemulihan sebagaimana tercermin pada pertumbuhan 1,66% (qtq) atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar -7,24% (qtq). Hal ini terlihat dari kenaikan nilai PDRB dari Rp 35,84 triliun di Q2 menjadi Rp 36,44 triliun di Q3 2020. Perbaikan ini seiring implementasi strategi pemulihan ekonomi yaitu penerapan tatanan kehidupan baru (program Clean Healthy Safety and Environment) khususnya di sektor pariwisata.

Berdasarkan data, dari 17 lapangan usaha, 11 di antaranya tercatat tumbuh positif. Tiga pertumbuhan tertinggi dialami lapangan usaha jasa pendidikan yang tumbuh 3,98% (qtq), diikuti sektor jasa lainnya yang tumbuh 3,86% (qtq) serta informasi dan komunikasi yang tumbuh 3,78% (qtq).

Sejalan dengan mulai dibukanya wisatawan domestik, kata Trisno, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan positif masing-masing 3,41% (qtq), 3,64% (qtq) dan 3,4% (qtq). Dari sisi penggunaan, perbaikan terjadi pada komponen konsumsi pemerintah (21,76% qtq), ekspor luar negeri (11,17% qtq)  dan investasi (32,68% qtq). Sementara konsumsi rumah tangga masih tumbuh terbatas (1,87% qtq).

Sementara itu, jika dilihat secara pertumbuhan tahunan (yoy), Bali masih mengalami kontraksi sebesar -12.28%, lebih rendah dari Q2 sebesar -11.02%. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun secara level terjadi peningkatan dibanding Q2 2020, nilai PDRB Bali di Q3 2020 masih jauh di bawah nilai PDRB di Q3 2019.

Trisno menyebutkan untuk mempercepat pemulihan, penerapan teknologi dan digitalisasi merupakan sebuah  keharusan di era tatanan kehidupan baru. Adanya kebiasaan baru dan awareness terhadap penularan wabah Covid-19 memaksa konsumen (dan juga produsen) untuk cenderung menggunakan teknologi dalam kesehariannya. Saat PSBB, industri e-Commerce menjadi tulang punggung bagi aktivitas perdagangan di sektor riil agar tetap hidup. Pelaku bisnis sebaiknya mengubah pola pikir untuk lebih mempertimbangkan aktivitas bisnis secara online. Secara bertahap, sektor informal atau pedagang di pasar tradisional juga akan dapat beralih ke arah teknologi digital pada industri e-Commerce.

Hal yang sama dikatakan Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bali Tri Budhianto.  Menurutnya, memasuki tatanan kehidupan baru, perekonomian Bali kembali mencatatkan pertumbuhan kuartal to kuartal yang positif yaitu 1,66 persen. Oleh karenanya, sebagai dukungan percepatan pemulihan ekonomi perlu dilakukan dengan akselerasi insentif dan bantuan usaha PEN, akselerasi penyerapan belanja APBN 2020 dan program PEN, memperkuat sistem kesehatan seperti mendorong testing, tracing dan treatment (3T), termasuk memastikan masyarakat disiplin menjalankan prokes 3M. *dik

BAGIKAN