Pemkab Tabanan Tetap Antisipasi Kasus Kematian Babi Mendadak  

Sejak Juli 2020, kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan tercatat nihil kasus.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejak Juli 2020, kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan tercatat nihil kasus. Meski begitu, kondisi tersebut belum mencerminkan bahwa ancaman kematian babi yang diduga akibat terserang virus Afrika Swine Fever (ASF) alias demam babi ini sudah mereda sekarang.

“Sejak Juli lalu tidak ada lagi kasus kematian babi secara mendadak yang dilaporkan di tingkat kecamatan, sehingga saat ini bisa dibilang nihil munculnya kasus,” tutur Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Suamba, di Tabanan, Kamis (13/8) kemarin.

Menurutnya, dengan nihilnya kasus ini, maka saat ini populasi babi di Kabupaten Tabanan tercatat mencapai 6.016 ekor atau jauh menurun dari populasi enam bulan sebelumnya yang tercatat 75.000 ekor. Sebagian besar sebaran populasi babi ini berada di Tabanan wilayah utara di antaranya, Baturiti, Jatiluwih, Senganan, dan Pupuan. Sementara untuk Tabanan wilayah selatan, populasinya hampir kosong pascakasus kematian babi lalu.

Jelas Suamba, nihilnya laporan kematian babi ini belum mencerminkan bahwa ancaman serangan virus yang diduga akibat ASF ini sudah mereda. Itu pula yang membuat sejumlah peternah belum kembali lagi mengusahakan beternak babi, setelah sebelumnya babi yang yang diusahakan mati secara mendadak. Secara teori ancaman terhadap serangan virus ini membutuhkan waktu enam sampai satu tahun untuk terbebas.

“Dalam kurun waktu tersebut pula kemungkinan sejumlah peternak belum kembali mengusahakan beternak babi mengingat masih tingginya risiko kematian. Apalagi babi yang mati sebelumnya ini tidak dibakar melainkan hanya dikubur disekitar kandang, sehingga risokonya masih cukup tinggi terserang virus,“ ujarnya.

Saat ini dari total populasi babi yang ada di Tabanan ini, pihaknya mencatat dari jumlah tersebut hanya 3.242 ekor merupakan babi untuk siap potong. Sisanya, merupakan babi kualitas bibit dan indukan. Bercermin dari itu pula akuinya, kebutuhan babi di Tabanan untuk kebutuhan hari raya Galungan pada September mendatang berpotensi akan kekurangan pasokan.

Sebab dari pengalaman momen yang sama sebelumnya, kebutuhan babi untuk Galungan bisa mencapai 8.000-an ekor. “Untuk momen Galungan nanti untuk menutupi kebutuhan akan babi, mau tidak mau harus mendatangkan babi dari luar Tabanan atau mengurangi jumlah pemotongan terlebih harganya mahal saat ini,” kilahnya.

Tambahnya, harga babi di pasaran untuk di tingkat peternak berkisar Rp 38.000 per kg sampai Rp 40.000 per kg. Kondisi tersebut sudah naik signifikan dari sebelumnya yang sempat diperdagangkan Rp 15 ribuan per kg. Sementara untuk harga daging babi di pasaran diperdagangkan di kisaran Rp 65.000 per kg sampai Rp 70.000 per kg. *man

BAGIKAN