Pemerintah Diminta Fokus Kembangkan Pariwisata Berkualitas

Untuk meningkatkan perekonomian dan pariwisata Bali, sudah saatnya pemerintah maupun pelaku usaha fokus pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dan tertuju ke wisatawan berkualitas.

TARI - Penumpang kapal pesiar menyaksikan tari penyambutan di Pelabuhan Benoa. Foto diambil sebelum pandemi Covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) – Untuk meningkatkan perekonomian dan pariwisata Bali, sudah saatnya pemerintah maupun pelaku usaha fokus pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dan tertuju ke wisatawan berkualitas. Pemerhati pariwisata, I G.A.A. Inda Trimafo Yudha mengatakan, pelaku usaha jangan pesimis pariwisata akan terus terpuruk. Kondisi ini malah harus menjadi penyemangat untuk berbuat lebih baik.

“Saat ini bagus bagi pariwisata Bali kembali dijadikan satu dengan ekonomi kreatif. Kedua sektor ini harus saling mendukung,” ujarnya.

Kenapa parekraf? Perempuan yang akrab disapa Gek Inda ini menyebut, karena pengembangan sektor parekraf membuat hasil perekonomian masyarakat tumbuh dengan pesat. Itu dapat dilihat dari berkembangnya dunia pariwisata maka wisatawan akan memerlukan tempat belanja, produk kerajinan dan lainnya. Karena itu, pemerintah perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat dan industri kecil menengah, kesenian dan lain sebagainya tumbuh dengan baik. “Ciri khas kita culture dan pernik-pernik buatan lokal bisa dijual sehingga parekraf sudah tepat,” imbuhnya.

Anggota DPRD Badung asal Desa Carangsari ini menyampaikan, industri kreatif tidak semata-mata hanya mengandalkan pariwisata tetapi juga mengandalkan ekspor. Sejauh ini sudah banyak ekportir Bali yang mengekspor kerajinan kreatif ke luar negeri.

Selain mengembangkan parekraf, ia menyebutkan fokus ke wisatawan berkualitas harus segera dilakukan mengingat berbagai kejadian baik bencana alam, wabah, security attack, terorisme atau apa saja, bisa terjadi kapan saja. Ia pun mengaku tidak pernah terkesima dengan jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Tiongkok misalnya, selama ini terkenal dengan jumlah wisatawannya yang besar ke Bali.

“Kita yang fokuskan sekarang adalah kualitas. Jangan melihat number people coming namun melihat dolar atau rupiah yang menjadi sumber devisa ke Bali,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho  menyatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19, BI menekankan pada jalur kuantitas melalui penyediaan likuiditas, termasuk dukungan kepada pemerintah dalam mempercepat realisasi APBN tahun 2020. “Bentuk dukungan BI dalam mempercepat realisasi APBN, antara lain melalui pembelian SBN di pasar perdana,” katanya.

Menurutnya, hingga 15 September 2020, BI telah membeli SBN di pasar perdana melalui mekanisme pasar sebesar Rp 48,03 triliun. Selain itu, BI juga melakukan pembagian beban dengan pemerintah untuk pendanaan non public goods – UMKM yang telah direalisasikan sebesar Rp 44,38 triliun.

BI juga kembali mempertahankan suku bunga kebijakan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada September 2020, di angka 4,00 persen. Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah inflasi yang diperkirakan tetap rendah. “Sebelumnya, BI telah empat kali menurunkan suku bunga, yaitu pada Februari, Maret, Juni, dan Juli 2020, masing-masing sebesar 25 bps,” imbuhnya. *dik

BAGIKAN