Pembangunan Pelabuhan Bias Munjul, Gunakan Kearifan Lokal, Bermanfaat untuk Masyarakat

Peletakan batu pertama pembangunan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan, Desa Lembongan, Kecamaan Nusa Penida,  dilakukan tepat pada hari suci Purnama Kepitu, Anggara Wage, Ugu, Selasa (29/12)

Semarapura (bisnisbali.com) –Peletakan batu pertama pembangunan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan, Desa Lembongan, Kecamaan Nusa Penida,  dilakukan tepat pada hari suci Purnama Kepitu, Anggara Wage, Ugu, Selasa (29/12) kemarin. Dirjen Perhubungan Darat Drs. Budi Setyadi, S.H.,  M.Si., mengharapkan pengerjaan pelabuhan penyeberangan yang menggunakan APBN senilai Rp 97 miliar ini ada kegiatan pendampingan sehingga pembangunannya berjalan lancar dan berkualitas.

Dia menyatakan kehadirannya pada acara peletakan batu pertama pembangunan Pelabuhan Bias Munjul atas perintah langsung Menteri Perhubungan (Menhub). Selanjutnya Menhub RI berpesan agar pembangunan pelabuhan ini menggunakan kearifan lokal dan secara fisik mampu memberikan manfaat terbaik untuk masyarakat dengan pengerjaan tepat waktu serta memperhatikan aspek keselamatan.

Budi Setyadi di hadapan perwakilan Kejaksaan Tinggi Bali memohon kegiatan pendampingan dari Kejaksaan terus dilakukan, supaya pembangunan ini berjalan lancar dan berkualitas. ‘’Setelah pekerjaan ini diselesaikan, kita memikirkan operator pelabuhan ini nanti siapa? Apakah Pemerintah Provinsi Bali atau Pemerintah Kabupaten Klungkung. Pemeliharaan bangunannya perlu diperhatikan  demi menciptakan keselamatan masyarakat yang ingin berlabuh keliling Pulau Nusa Penida dan menuju Sanur,”  tegasnya seraya menyatakan siap mendukung kebijakan Gubernur Bali karena Bali yang pertama kali disempurnakan untuk kepentingan pariwisata.

Menjawab hal itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, operator pelabuhan ini, apakah Pemerintah Pusat, ASDP, Pemerintah Provinsi Bal  atau Pemerintah Kabupaten/Kota, diserahkan sepenuhnya ke Menhub. Menurutnya, Nusa Penida punya daya tarik yang sangat kuat secara spiritual dengan adanya Pura Ratu Gede di Dalem Ped serta aktivitas masyarakat dan pariwisatanya yang sangat tinggi dari Sanur menuju Nusa Penida.  Untuk itu, Gubernur Koster minta kepada PT  Nindya Karya agar mengerjakan pembangunan pelabuhan ini secara profesional,  berkualitas baik  dan selesai tepat waktu.

Mantan Anggota DPR-RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga memohon desain pelabuhan ini mencerminkan kearifan lokal, seni dan budaya di Nusa Ceningan. “Saya ikut membahas desain pelabuhan ini. Saya harapkan Pelabuhan Segitiga Sanur, Nusa Penida dan Nusa Ceningan ini menjadi ikon,” jelasnya.

Gubernur Koster lebih lanjut menyatakan, alasan utama tekadnya mewujudkan ketiga pelabuhan itu  karena merasa terpanggil untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Bali dan wisatawan dunia yang hendak melakukan penyeberangan dari Sanur menuju Nusa Penida dan Nusa Ceningan di Kabupaten Klungkung.

“Ini bukan janji waktu Pilgub Bali, tapi karena ada niat yang membuat jiwa perjuangan saya tergerak. Tahun 2017 ketika saya menyeberang ke Nusa Penida dalam kegiatan sosialisasi menjadi calon Gubernur Bali, dari Sanur saya merasakan keprihatinan karena melihat banyak masyarakat Bali dan wisatawan mancanegara harus digendong. Ada juga yang mengangkat kain celananya, hingga membuka sepatunya untuk menghindari terjangan ombak menuju speed boat,” ceritanya di hadapan masyarakat Nusa Ceningan.

Pelabuhan Sampalan dan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Penida direncanakan selesai pada akhir 2021, sedangkan Pelabuhan Sanur ditargetkan tuntas pada pertengahan 2022. *wid

BAGIKAN