Pembangunan Pasar Gianyar Dijadikan ’’Pilot Project’’ Penggunaan Konstruksi Digital

Teknologi digital yang kini telah merambah dunia konstruksi makin digencarkan pemanfaatannya untuk mempermudah pengerjaan bangunan.

General Manager PT Glodon Technical Indonesia Mr,  Sanks Fy (tengah) saat memaparkan soal Building Infomasi Modeling (BIM).  

Denpasar (bisnisbali.com)-Teknologi digital yang kini telah merambah dunia konstruksi makin digencarkan pemanfaatannya untuk mempermudah pengerjaan bangunan. Salah satu teknologi yang digunakan yaitu Building Information Modeling (BIM) dalam pembangunan dengan konstruksi berbasis digital.

Di Bali sendiri BIM sudah mulai dikenal.  Salah satunya digunakan dalam pembangunan Pasar Umum Gianyar sekaligus menjadi pilot project pembangunan dengan konstruksi berbasis digital.

Direktur Utama PT Tunas Jaya Sanur (Group), I Made Buadi Atmika yang menangani pembanguan Pasar Umum Gianyar, Senin (7/9) kemarin, mengatakan, pihaknya telah melakukan training penggunaan software tersebut sejak Februari lalu. “Pasar Umum Gianyar akan menjadi pilot project. Diharapkan bisa menjadi role model konstruksi berbasis digital kedepannya,” ungkap.

Dengan penggunaan BIM, lanjut Budi Atmika menjelaskan, proyek ini memiliki tiga kelebihan dibandingkan penggunaan metode konvesional yaitu perhitungan lebih akurat, efisiensi waktu serta transparansi. Bahkan margin eror dari penggunaan BIM ini masih di bawah 3 persen. Namun untuk investasi di awal, penggunaan software BIM ini memiliki harga yang cukup tinggi.

General Manager PT  Glodon Technical Indonesia (perusaaan penyedia software BIM) Mr. Shanks Fu didampingi Account Manager, Bagas Dewantara, mengatakan, BIM merupakan salah satu teknologi di bidang AEC (Arsitektur, Engineering dan Konstruksi) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi di dalam proyek pembangunan ke dalam model 3 dimensi. “Tujuan kami datang ke Bali, selain untuk menyelesaikan project Pasar Umum Gianyar juga untuk memastikan bahwa akan tercipta lingkungan digital konstruksi di Bali,” terangnya.

Bagas Dewantara menambahkan, teknologi berbasis digital bukanlah hal yang sulit diterima oleh masyarakat Bali, sehingga konstruksi berbasis digital akan mudah berkembang di Bali. *wid

BAGIKAN