Pemasaran Produk Fashion Mulai Menggeliat

Para pengusaha fashion sempat beralih ke usaha lain, bahkan ada menutup usahanya akibat pandemi Covid-19.

FASHION – Penjualan produk fashion di salah satu toko di Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) – Para pengusaha fashion sempat beralih ke usaha lain, bahkan ada menutup usahanya akibat pandemi Covid-19. Namun, saat ini usaha mereka sudah mulai menggeliat. Meski tidak terlalu signifikan, permintaan fashion mulai ada dan lebih kepada produk dengan harga terjangkau.

Salah seorang pengusaha di bidang fashion, Rhea Cempaka saat ditemui di Denpasar beberapa waktu lalu mengatakan, menggeliatnya kembali pemasaran produk fashion sudah mulai sejak kurang lebih tiga bulan lalu. Terutama ketika permintaan masker fashion mulai meredup. “Saat penjualan masker fashion sudah berkurang dikarenakan banyak yang memproduksi masker saat itu, kami kembali mencoba menggeliatkan fashion sebelumnya, dan permintaan mulai ada dari sejak itu,” ungkapnya.

Menurutnya, permintaan fashion saat ini lebih kepada produk dengan harga terjangkau. Dengan itu, dia mengaku lebih berinovasi untuk produk dengan harga yang lebih terjangkau. “Saat ini kami fokus membuat produk yang harganya terjangkau, kita sesuaikan dengan permintaan pasar,” ujarnya.

Untuk produk eksklusif, dikatakannya, tetap ada. Namun pihaknya mengaku tetap harus beralih untuk menjual dan menciptakan produk dengan harga terjangkau. Demikian diakuinya pula untuk produk yang dijual saat ini selalu dilengkapi masker, sehingga warna dan jenis fashion yang ditawarkan senada dengan masker yang melengkapi.

Hal senada diungkapkan oleh pengusaha busana adat Bali, Mirah Krsnayanthi. Dia mengakui sempat menutup tokonya pada awal pandemi lalu. Tapi sekarang, permintaan produk fashion terutama busana adat Bali mulai menggeliat, dimulai sejak hari raya Galungan dan Kuningan lalu.

Dia juga menyebutkan permintaan saat ini lebih kepada produk dengan harga terjangkau, yang di tempatnya kebaya dengan motif bunga-bunga menjadi produk yang paling banyak diminati. Meski bisnisnya mulai menggeliat, Mirah mengaku belum bisa bernapas lega. Pihaknya membutuhkan banyak inovasi di tengah pandemi Covid-19 ini. Mulai dari memberi diskon pada pelanggan dengan asumsi menjual dengan harga yang lebih terjangkau agar produk bisa berputar, jeli melihat kebutuhan masyarakat serta menakar produksi agar tidak berlebih. *wid

BAGIKAN