Pemasaran  ’’Black Garlic” Turun, Petani Bawang Putih Fokus Pembibitan

Covid-19 berdampak pada turunnya angka permintaan pasar terhadap black garlic yang merupakan olahan berbahan bawang putih.

Tabanan (bisnisbali.com) –Covid-19 berdampak pada turunnya angka permintaan pasar terhadap black garlic yang merupakan olahan berbahan bawang putih. Bercermin dari kondisi tersebut, sejumlah sentra produksi olahan bawang putih ini lebih fokus untuk persiapan pembibitan sebagai persiapan menghadapi musim tanam berikutnya.

Perbekel Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, I Made Suka Pariana, Minggu (11/10) mengatakan, Desa Babahan merupakan salah satu sentra produksi bawang putih yang beberapa hasilnya diolah menjadi black garlic. Imbuhnya, saat ini meski olahan bawang putih ini menyimpan sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh, namun di tengah pandemi ini juga terdampak seiring dengan menurunnya daya beli konsumen.

Akibatnya, jika sebelum pandemi produksi maupun permintaan pasar rata-rata mencapai 5 Kg per bulan atau setara sekitar 15 botol, maka kini produksi black garlic hanya mencapai rata-rata 8-10 botol per orang.

“Selain dampak pandemi, terkait pemasaran black garlic juga belum maksimal karena baru sebatas informasi dari mulut ke mulut,” tuturnya.

Jelas Suka Pariana, serapan pasar olahan bawang putih yang menurun ini memang membuat stok bawang putih di tingkat petani jadi meningkat, terlebih saat ini yang baru selesai panen pada September lalu. Katanya, oleh petani panen bawang putih ini selain dimanfaatkan sebagai olahan, beberapa petani memanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, ada yang juga melempar produksi kepasaran dan sekitar 20 persen disimpan sebagai bibit untuk musim tanam mendatang.

“Saat ini untuk hasil produksi bawang putih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh kelompok yang ada di Desa Babahan sehingga petani ada menjual produksi secara bebas termasuk ke tengkulak. Kondisi ini berbeda dengan 2019 lalu, di mana sisa produksi yang ada diserap oleh investor,” ujarnya.

Sementara itu, musim tanam untuk bawang putih di Desa Babahan dijadwalkan pada Mei-Juli 2021 mendatang, sedangkan saat ini setelah musim panen bawang putih para petani di Desa Babahan ini memanfaatkan lahan untuk tanaman padi Bali (varietas lokal) seiring  dengan pola tanam kertamasa. Selain itu dipilihnya tanam padi sebagai tanaman sela ini karena pertimbangan di tengah pandemi ini dimanfaatkan untuk menopang ketahanan pangan. Maksudnya, ketika panen nanti produksi gabah tidak terserap maksimal oleh pasar, minimal produksi tersebut bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan atau konsumsi rumah tangga mereka (petani).

Paparnya, bercermin dari produksi sebelumnya untuk bawang putih di Desa Babahan cukup bagus. Itu terbukti dari rata-rata produksi per are bisa mencapai 80 kg-1 kwintal. Akuinya, kondisi tersebut sudah sangat ideal dan untuk 2020 ini di Desa Babahan untuk luasan produksi bawang putih mencapai 5 hektar.

Prediksinya, respons masyarakat di Desa Babahan untuk budi daya bawang putih di tahun mendatang cukup bagus.  Terlebih lagi jika harga bawang putih yang stabil ini tetap bertahan hingga musim tanam mendatang. Sebab menurutnya, ketertarikan petani untuk budi daya sangat ditentukan pada harga jual di pasaran, dan terkait pemasaran produk.*man  

BAGIKAN