Pemanfaatan Lahan Tidur di Tabanan Terganjal SDM dan Biaya

Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pertanian menyisir keberadaan lahan tidur yang rencananya dikembangkan sebagai lahan pertanian sebagai upaya mendukung ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19. Hasilnya, tercatat 153,19 hektar lahan tidur.

LAHAN TIDUR - Salah satu lahan tidur di Kabupaten Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pertanian menyisir keberadaan lahan tidur yang rencananya dikembangkan sebagai lahan pertanian sebagai upaya mendukung ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19. Hasilnya, tercatat 153,19 hektar lahan tidur. Sayangnya, pemanfaatannya berpotensi terganjal dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan biaya pengelolaan yang besar.

Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana, Jumat (21/8) kemarin, mengungkapkan, dari hasil pendataan yang dilakukan PPL di seluruh Kabupaten Tabanan terdapat 153,19 hektar lahan tidur yang tersebar di enam kecamatan. Rinciannya, di Kecamatan Marga total mencapai 45 hektar, di Kecamatan Selemadeg Barat mencapai 11,50 hektar, di Kecamatan Kediri sebanyak 18,3 hektar, Kecamatan Kerambitan mencapai 50,16 hektar, di Kecamatan Selemadeg Timur 16,23, dan Kecamatan Tabanan totalnya 12 hektar.

“Program pemanfaatan lahan tidur ini sudah pernah dilakukan oleh Bupati Tabanan sebelumnya. Dan program tersebut dibantu oleh TNI dalam pemanfaatan atau pengolahan lahan,” tuturnya.

Kata Budana, pengalaman sebelumnya dan juga menjadi ganjalan dalam upaya pemanfaatan potensi lahan tidur yang cukup luas ini yaitu masalah tenaga atau keterbatasan personel dan juga keterbatasan anggaran. Sebab menurutnya, untuk mengembangkan lahan tidur ini menjadi pertanian, terlebih lagi jenis sayur-sayuran membutuhkan biaya cukup besar.

“Sebab, mulai dari mengolah lahan, bibit, pupuk hingga pemeliharaan agar bisa menghasilkan produksi yang baik ini memerlukan biaya cukup besar. Itu belum termasuk jika tanaman ini terserang hama, karena untuk jenis tanaman sayur sangat rentan terhadap serangan hama,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, ganjalan lainnya adalah meski data lahan tidur ini sudah dikantongi, luasan tersebut belum sepenuhnya bisa dikerjasamakan dengan pemilik lahan untuk kelola. Penyebabnya, sejumlah kepemilikan lahan sudah berpindah tangan dua hingga tiga kali, bahkan pemiliknya tinggal di luar Bali sehingga sulit untuk diajak kerja sama. Meski begitu, pihaknya akan berupaya terus memanfaatkan potensi lahan tidur yang ada, salah satunya saat ini yang sudah dilakukan dengan mencarikan buruh dari pihak pemilik lahan, sedangkan pihaknya melakukan pendampingan. “Kebutuhan bibit dan pupuknya, kami kerjasamakan dengan sejumlah penyedia usaha penjualan,” ucapnya. *man 

BAGIKAN